Skip to main content

Posts

Belajar dari Ferdy sambo dan Farel Prayoga

Jika pepatah mengatakan guru terbaik adalah pengalaman, maka kita bisa belajar dari pengalaman siapapun. Entah itu pengalaman kita sendiri maupun orang lain.  Bedanya kalau pengalaman sendiri yang buruk biasanya kita melalui fase penyesalan. Tapi kalau pengalaman dari orang lain kita akan lebih bijak agar hal-hal buruk bisa kita hindari lebih dini. Berkaca dari apa yang menimpa dua sosok yang sedang trending di media saat ini kita bisa belajar banyak hal. Yang pertama dari Ferdy Sambo. Perjalanan karir sebagai polisi tergolong mentereng khususnya di bidang reserse. Ferdy Sambo Mengawali karir dengan lulus Akpol tahun 1994 karir kepolisian Sambo melesat hingga berpangkat Inspektur Jenderal Polisi. Berbagai jabatan penting pernah ia emban di institusi Kepolisian Indonesia. Pernah menjabat Kasatreskrim Jakarta, Kapolres di Purbalingga dan Jawa Tengah, Direktur di Bareskrim, hingga Kadiv propam.  Tapi apa boleh buat, seketika prestasi dan jabatan tersebut harus hilang karena sebua...

Romantisme Iktikaf

Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi Umat Muslim. Bulan tersebut didalamnya terdapat banyak sekali keberkahan yang diberikan Allah SWT bagi siapa saja yang menjalankannya. Tiap kebaikan dilipatgandakan, pintu maaf dibuka selebar-lebarnya dan rahmat Allah SWT diberikan seluas-luasnya.  Selain itu, Al-Qur'an yang merupakan buku petunjuk bagi seluruh alam semesta juga turun di bulan ini.  Bahkan, secara khusus Allah SWT menyebut satu malam khusus dalam satu surat yaitu surat Al-Qadr.  Keistimewaan malam tersebut selain merupakan turunnya Al-Qur'an, Allah SWT juga menurunkan para malaikatnya untuk membantu urusan duniawi manusia. Setiap kebaikan akan bernilai seribu bulan atau lebih dari 83 tahun. Malam tersebut adalah malam Lailatul Qadar.  Beberapa pendapat menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar turun dimalam ganjil sepuluh hari terakhir pada Bulan Ramadhan. Malam inilah yang menjadikan motivasi tambahan untuk mempertahankan kualitas ibadah di hari-hari terak...

Budaya buka bersama dan flexing di Bulan Ramadhan

 Bulan Ramadhan sangat lekat sekali dengan kegiatan buka bersama. Tidak hanya sekedar membatalkan puasa atau makan secara bersamaan, namun buka bersama sekaligus dinantikan untuk bertemu dengan saudara ataupun teman yang biasanya sudah lama tidak berjumpa. Bisa jadi trah keluarga, rekan sekolah ataupun komunitas tertentu sebagai ajang reuni dan nostalgia. Memang kegiatan ini begitu menyenangkan dan selalu kita tunggu tiap kali bulan puasa tiba. Saking senengnya, kadang kegiatan buka puasa bablas ke acara lainnya yang justru terkadang melalaikan dari kewajiban lainnya di bulan puasa. Misal sholat isya dan tarawih secara berjamaah. Memang banyak sekali gimmick-gimmick buka bersama yang membuat kita sangat menantikannya.  Tapi ternyata ada juga hal-hal yang membuat kita risih dengan kegiatan buka bersama. Kegiatan buka bersama yang semestinya sebagai bentuk ibadah dan menjalin silaturahmi terkadang harus dihiasi dengan hal-hal yang berbau flexing ataupun pamer sesuatu. Banyak hal...

Berdamai dengan Kondisi ini

Bulan Ramadan tahun ini kita terpaksa menjalani dengan kondisi yang tak biasa. Bulan istimewa bagi umat Islam ini harus dijalani ditengah kondisi pandemi Covid-19 yang belum reda. Kegiatan keagamaan seperti buka bersama, kajian ilmu, membaca Alqur'an bersama, tarawih bersama, hingga berdiam diri di Masjid (iktikaf) harus ditinggalkan. Budaya dan kebiasaan di bulan Ramadan seperti ngabuburit dan mudik juga harus diindahkan demi memutus mata rantai penularan virus. Kondisi ini memang bencana besar. Pemerintah sudah menetapkan sebagai bencana Nasional. Kondisi yang juga dirasakan di berbagai belahan Dunia. Pemerintah sudah mengeluarkan berbagai kebijakan. Diantaranya himbauan tetap dirumah, himbauan menjaga jarak, himbauan memakai masker, pembatasan sosial berskala besar, melarang mudik, dan sebagainya. Nyatanya semua itu belum cukup untuk mengatasi bencana ini. Kini... Masyarakat mulai jenuh. Masyarakat mulai mengenal "New Normal" untuk  berdamai dengan s...

Ketidakberdayaan Menghadapi Virus Corona

Virus Corona telah mengobok-obok hidup kita. Melihat cepat dan mudah nya penularan, sepertinya kita tinggal menunggu waktu untuk terpapar. Bukannya pesimistis, tapi kebimbangan kebijakan penanganan virus Corona ini menanggung konsekuensi semakin luasnya penyebaran. Itu fakta dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda berkurangnya kasus ini. Tak bijak juga menyalahkan Pemerintah yang dalam hal ini memiliki otoritas penuh. Kebijakan yang nampak ambigu memang menanggung semakin menggilanya virus ini. Pemerintah hanya bisa menghimbau masyarakat untuk meminimalisir aktivitas diluar rumah yang diyakini akan menghentikan penyebaran virus ini. Tapi apakah mempan? Nyatanya tidak. Banyak faktor penyebabnya. Faktor tingginya jumlah pekerja harian lepas menuntut mereka tetap beraktivitas seperti biasa. Beberapa sektor industri juga sulit menghentikan produksi mereka karena tingginya cost yang harus ditanggung jika harus "merumahkan" karyawannya. Faktor lainnya adalah lemahnya kedisip...

Tak ada yang salah dan tak ada yang kalah

Hiruk pikuk Pilpres belum selesai. Meskipun pencoblosan sudah dilakukan, Quick-count yang menjadi acuan hasil Pilpres menjadi masalah baru. Capres #02 meragukan kredibilitas semua lembaga survei yang hasilnya memenangkan pasangan #01. Kita harus kembali disajikan kompetisi politik yang menjengkelkan atau minimal menggemaskan. Semua serba abu-abu. Mana benar dan salah ditentukan persepsi atau opini yang diyakini benar bagi masing-masing pendukung.  Alhasil, media sosial menjadi sampah bagi letupan amarah bagi masing-masing pendukung yang tidak terima dengan hasil ini atau yang merasa paslon idolanya sudah menjadi pemenang.  Lantas kita harus bagaimana bersikap?. Dalam satu sisi, demokrasi kita sudah maju ketika banyak masyarakat terlibat dan menyampaikan pemikiran nya. Tak salah data yang menunjukkan tingkat partisipasi Pilpres kali ini lebih dari 80% dan melebihi target (dari berbagai sumber).  Namun prestasi ini harus menanggung konsekuensi resiko konflik ...

Islam semakin disudutkan

Sungguh menyedihkan melihat kondisi atau paradigma masyarakat luas terhadap Islam dewasa ini. Betapa tidak,  banyak isu-isu negatif yang melibatkan orang beragama Islam.  Isu kekerasan, kebohongan, bahkan ujaran kebencian hampir semua menyentuh Islam.  Contoh yang bisa saya sebutkan adalah label teroris. Isu tersebut tak bisa jauh dari Islam. Jika kita mengamati dari media hampir semua terduga maupun tersangka dengan predikat teroris adalah orang pemeluk agama Islam. Bahkan semua variabel yang mengikutinya secara gamblang disebutkan. Dari asal orang tua nya hingga sekolah di pondok mana terpampang jelas. Jika kita menilik Pilkada DKI kemarin, kini Islam seakan menjadi dagangan politik. Sebuah label yang sulit dihapus ketika ada kasus penistaan Agama yang dilakukan oleh salah satu calon Gubernur ketika itu. Islam yang disinggung, Islam yang disudutkan ketika ada ulama meluruskan, ada ormas yang menegur dan ada masa dari masyarakat Islam yang risih disitulah muncul o...

3 Tahun Menjadi Bapak

Sudah barang tentu menjadi sebuah kebahagiaan ketika kita dikaruniai seorang Anak. Hal itu pula yang saya rasakan tatkala Istri yang beberapa bulan setelah saya Nikahi memberi kabar bahwa ia positif hamil. "Alhamdulillah...", ucap saya ketika itu. Hampir keguguran, mengalami kontraksi semu kemudian dilarikan ke Rumah Sakit serta permintaan Istri paling aneh adalah es degan di malam hari menjadi warna tersendiri selama proses kehamilan. Singkat cerita Alhamdulillah, waktu yang dinanti datang juga. Bertepat di RSI Kustati anak pertama saya lahir dengan normal. Mobil ambulan yang membawa Istri saya tiba di RSI Kustati Sabtu (28/2) Tahun 2015 mobil ambulan yang membawa Istri saya tiba di Rumah Sakit sekitar pukul 17.30 WIB. Anak saya lahir pada pukul 21.55 WIB dengan BB 2.4 Kg dan TB 46 Cm. Rasa syukur dan kebahagiaan yang saya rasakan ketika melihat secara langsung proses kelahiran. Meskipun awalnya ngeri melihat alat-alat operasi di ruang persalinan. Saya merasa ...

Keadilan Yang Tidak Merata

Hari ini banyak media membicarakan kepulangan Novel Baswedan. Salah satu penyidik KPK itu pulang dari masa perawatan luka mata yang ia jalani di salah satu rumah sakit di Singapura.  Luka tersebut didapatkan akibat penyiraman air keras yang ia alami 10 bulan yang lalu.  Pulangnya Novel tersebut bak pahlawan yang disambut banyak kalangan,  termasuk dari internal KPK yang akan menyiapkan sambutan khusus. Apa yang menimpa Novel memang tindakan biadab dan sebuah bentuk teror terhadap penegakan  hukum khususnya pemberantasan korupsi di tanah air. Ya,  Novel memang menjadi simbol perlawanan terhadap korupsi setelah apa yang menimpa pada dirinya terjadi bertepatan dengan kasus yang ia tangani yakni mega proyek e KTP yang merugikan Negara triliunan rupiah. Tapi di sisi lainnya Novel adalah ancaman bagi para koruptor e KTP yang saat ini sedang ditangani KPK.  Polri sebagai lembaga yang berwenang mengusut tuntas kasus ini belum menunjukkan hasil memuaskan....

Isu agama yang mudah dimanfaatkan

Kesimpulan diatas ditemukan oleh Pusat Studi Hak Asasi Manusia (PusHAM) Universitas Islam Indonesia (UII). Dikutip dari Solopos, temuan tersebut didasarkan dari studi yang telah dilakukan dan menurut mereka konflik yang mengatasnamakan Agama di beberapa lokasi di tanah air hanyalah upaya pihak pihak tertentu untuk kepentingan ekonomi maupun politik. Dari hasil riset menunjukan, kepentingan ekonomi dan kepentingan politik adalah dua variabel yang bisa bekerja sama dalam lingkup kecil untuk kepentingan masing-masing.  "agar tidak terlalu terlihat,  isu Agama yang dimainkan. Isu ini merata. Kami ingin sampaikan, kita punya masalah serius ketika tafsir ayat suci Agama jadi tafsir ruang publik padahal kita punya konstitusi ", ujar Direktur PusHAM UII Eko Riyadi dikutip dari Solopos.  Wah, sebuah hasil penelitian yang mungkin akan menegur kita.  Dewasa ini isu Agama memang sangat melekat. Apalagi mendekati tahun politik 2018.  Pertanyaan besarnya adal...

Wow, 1200 Anjing dimakan setiap hari

Pernah merasakan masakan daging Anjing?. Kalau belum,  berarti sama. Hehe Saya terkejut membaca berita di solopos.com yang menyampaikan ternyata di Solo banyak pedagang atau warung penjual olahan daging anjing. Data yang disampaikan cukup mengejutkan bagi saya, dimana ada sekitar 100 warung dan satu warung rata-rata harus membunuh 12 ekor anjing per harinya, tergantung laris atau tidaknya warung tersebut. Para pedagang menjual olahan daging anjing dengan berbagai varian masakan dari satai jamu, rica-cica, hingga tongseng. Saya juga baru tahu, ternyata ada komunitas yang memperhatikan maraknya kuliner masakan anjing ini. Bersumber dari solopos.com, komunitas itu bernama Sahabat Anjing Surakarta atau komunitas peduli anjing.  Mereka berdiri sejak 2012. Cerita singkatnya komunitas pecinta anjing tersebut pada awalnya hanya mengamati. Lama-kelamaan mereka cukup gemas dengan menjamurnya pedagang makanan anjing. Mereka beranggapan bahwa menkonsumsi anjing sebagai makan...

Dibalik Final Piala Presiden 2018

Viral foto dan video Gubernur DKI Anies Baswedan yang dilarang oleh Paspampres turun ke podium pemain bersama rombongan Presiden memang menimbulkan beragam tanggapan. Ada pihak yang menyayangkan terjadinya peristiwa ini.  Dan ada juga yang menganggap hal ini biasa biasa saja yang tidak perlu dipermasalahkan.  Pihak yang paling bertanggung jawab dalam peristiwa ini adalah ketua panitia Piala Presiden,  yaitu Maruarar Sirait.  Dalam keterangan nya beliau sudah memberikan keterangan perihal peristiwa tersebut, "Itu pejabat juga enggak semuanya turun. Pak Mensos (Idrus Marham) enggak turun, Kepala BIN (Budi Gunawan) juga enggak turun. Ya baik-baik aja gitu loh," ujar Maruarar dikutip dari okezone.com.  Sebuah keterangan yang membantah berbagai spekulasi yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi karena perbedaan pandangan politik mereka yang kebetulan berbeda.  Saya sendiri sulit menerima keterangan tersebut. Bagaimana dengan anda?.  K...

Pertanyaan menyakitkan

Secara sengaja atau tidak terkadang rasa peduli terhadap saudara atau orang lain dalam bentuk bertanya justru akan membuat sakit hati orang yang mendapat pertanyaan tersebut. Benar atau tidak dan apa saja pertanyaan yang akan membuat orang lain sakit hati, berikut ulasan saya. Pertanyaan pertama "Kamu rangking berapa?". Kita akan sering mendapat pertanyaan tersebut ketika berada pada masa Sekolah Dasar (SD) sampai SMA. Sebuah pertanyaan yang menurut saya tidak cukup bijaksana. Karena pertanyaan tersebut mengandung makna bahwa seorang anak harus berlomba-lomba mendapat nilai 100 atau sempurna ataupun ranking 1. Karena itulah terkadang beberapa anak merasa minder, kecil hati, bahkan tersakiti dengan pertanyaan tersebut. Sebenarnya sah-sah saja pertanyaan tersebut. Hanya saja pertanyaan yang sering dilontarkan para orang tua tersebut, terkadang menyudutkan bagi anak-anak yang memang kurang dalam hal akademik. Akan lebih bijaksana apabila pertanyaan tersebut diganti denga...

Totalitas dalam kebersamaan

Setiap individu terlahir dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Bahkan kita tidak bisa mengelak atau memilih karakteristik tertentu ada pada diri kita. Misal kita terlahir dari rahim seorang Ibu siapa, kita terlahir dari etnis apa, kulit kita berwarna apa, fisik kita seperti apa. Beberapa hal tersebut adalah wewenang Allah SWT dan kita tidak bisa memilihnya. Dalam keluarga kita tumbuh dan berkembang menjadi mahluk sosial. Mahluk yang membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup. Sejak kecil orang tua / keluargalah kelompok kita yang membantu tumbah kembang kita sebagai individu. Dari keluargalah kita mengenal organisasi sebuah kelompok. Bahwa ada peran masing-masing dalam kelompok yang menjadi tugas individu yang dibangun dengan dasar tolong menolong. Sebuah tugas yang sebenarnya ada dua sisi layaknya uang logam. Sisi pertama merupakan kewajiban. Sebuah kewajiban apabila kita mencermati dari perspektif Agama dan Budaya. Dengan meyakini bahwa Allah menciptakan manusia dari ...