Skip to main content

Dibalik Final Piala Presiden 2018

Viral foto dan video Gubernur DKI Anies Baswedan yang dilarang oleh Paspampres turun ke podium pemain bersama rombongan Presiden memang menimbulkan beragam tanggapan.
Ada pihak yang menyayangkan terjadinya peristiwa ini.  Dan ada juga yang menganggap hal ini biasa biasa saja yang tidak perlu dipermasalahkan. 
Pihak yang paling bertanggung jawab dalam peristiwa ini adalah ketua panitia Piala Presiden,  yaitu Maruarar Sirait.  Dalam keterangan nya beliau sudah memberikan keterangan perihal peristiwa tersebut, "Itu pejabat juga enggak semuanya turun. Pak Mensos (Idrus Marham) enggak turun, Kepala BIN (Budi Gunawan) juga enggak turun. Ya baik-baik aja gitu loh," ujar Maruarar dikutip dari okezone.com. 
Sebuah keterangan yang membantah berbagai spekulasi yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi karena perbedaan pandangan politik mereka yang kebetulan berbeda. 

Saya sendiri sulit menerima keterangan tersebut. Bagaimana dengan anda?. 

Karena final Piala Presiden sudah berlangsung tiga kali ini. Dan Final yang berlangsung sebelumnya, Gubernur DKI tampak menemani Presiden di podium pemain.  Sebuah pertanyaan yang belum terjawab,  "kenapa ada perbedaan perlakuan dengan Final sekarang?". 
Toh, kalau memang panitia sudah memutuskan hanya Presiden dan beberapa rombongannya tanpa Gubernur DKI yang nanti di akhir pertandingan yang ke podium menyerahkan hadiah dan piala kepada pemenang, semestinya sudah ada komunikasi. Sehingga kejadian tersebut (penghadangan oleh Paspampres kepada seorang Gubernur) tidak perlu terjadi. 

Tapi apapun itu marilah kita menilai segala sesuatu secara proporsional. Hal yang menjadi pertanyaan dan kejanggagalan kita tidak selama nya harus terjawab. Toh,  Gubernur DKI Anies Baswedan dan Presiden Jokowi adalah sosok yang pernah saling mendukung. Dan meskipun sekarang berseberangan secara politik itu hanya sebuah dinamika. 

Hanya saja harapan saya adalah sebagai tokoh dan  pemimpin seharusnya peristiwa tersebut tidak perlu terjadi dan harus dihindari.  Hal tersebuat hanya akan memunculkan ruang spekulasi dan fitnah dari kalangan masyarakat.  Panitia juga harus bisa lebih profesional. 

Ini harapan saya, sih. Bagaimana dengan anda?. 

Selesai.

photo by: okezone.com

Comments

Popular posts from this blog

Hidup Tenang atau Senang?

Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...

"molimo"

Ada sebuah ungkapan unik yang menggambarkan problematika mertua dengan menantu. Ungkapan atau istilah tersebut saya dengar pertama kali disingkat dengan kata “molimo”. Pada awalnya saya mengenal istilah tersebut adalah   singkatan dari beberapa kata perbuatan tercela dalam masyarakat seperti maling, madat, madon, main dan minum. Tetapi ternyata ada singkatan lain dari ungkapan “molimo” tersebut, yakni madep mantep mangan melu moro tuo, moro tuo muni-muni mantu minggat, moro tuo mati mantu marisi . Dalam bahasa Indonesia ungkapan tersebut kurang lebih berarti keyakinan ikut makan dan tinggal dengan mertua, mertua marah-marah menantu pergi dari rumah, mertua meninggal kemudian menantu mendapatkan warisan” . Dalam menyingkat istilah tersebut ada beberapa perbedaan, selain “molimo” ada yang menyebut dengan istilah “mosongo” atau “molimolas” dan lain sebagainya. Istilah ini familiar di telinga saya sendiri, saya pun terkadang juga memakai istilah ini sekedar untuk guyonan say...

Impian Tampil di Piala Dunia digagalkan Ego PSSI

Berbagai cerita manis telah ditorehkan Sepakbola Nasional. Asa untuk menorehkan sejarah baru, untuk menatap panggung yang selama ini hanya jadi mimpi, Piala Dunia. Tapi di tengah perjalanan itu, terasa badai datang bukan dari lawan di lapangan, melainkan dari keputusan di meja federasi. PSSI memilih berpisah dengan coach Shin Tae-yong sosok yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi arsitek perubahan terbesar dalam sepakbola nasional. Bukan soal yang sederhana. Sebab STY bukan hanya pelatih, tapi juga pembentuk budaya baru di tubuh timnas. Dari pola makan, disiplin waktu, hingga mental bertanding, semuanya ia ubah pelan-pelan. Kita masih ingat bagaimana awalnya banyak pemain yang “kaget” dengan standar latihan ala Korea Selatan itu. Tapi dari situlah perubahan dimulai dan proses itu nyata. Jejak yang Tak Bisa Dihapus: Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia menapaki fase yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Diantaranya: Finalis Piala AFF 2020, dengan skuad muda penuh seman...