Posts

Hidup Tenang atau Senang?

Image
Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...

Santri dalam Reformasi Akhlak!

Image
Bismillah... Kalau kita menengok ke belakang, sejarah bangsa ini tidak bisa dilepaskan dari peran besar para santri. Dari pesantren-pesantren kecil di pelosok hingga yang besar di kota, para santri turun langsung berjuang mempertahankan kemerdekaan. Mereka bukan hanya belajar kitab kuning, tapi juga mempertaruhkan darah merah membawa semangat jihad membela tanah air. Salah satu tonggak pentingnya adalah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang digagas oleh KH. Hasyim Asy’ari. Seruan itu menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah bagian dari ibadah. Dari situlah lahir semangat perlawanan yang akhirnya memuncak dalam Pertempuran 10 November di Surabaya. Artinya, santri bukan cuma bagian dari sejarah agama, tapi juga sejarah kemerdekaan bangsa. Namun perjuangan tidak berhenti di situ. Setelah kemerdekaan diraih, medan perjuangan bergeser. Musuh bangsa hari ini bukan lagi penjajah bersenjata, tapi penyakit moral yang diam-diam menggerogoti sendi kehidupan kita. Korupsi, ketidakjujuran, ...

Impian Tampil di Piala Dunia digagalkan Ego PSSI

Image
Berbagai cerita manis telah ditorehkan Sepakbola Nasional. Asa untuk menorehkan sejarah baru, untuk menatap panggung yang selama ini hanya jadi mimpi, Piala Dunia. Tapi di tengah perjalanan itu, terasa badai datang bukan dari lawan di lapangan, melainkan dari keputusan di meja federasi. PSSI memilih berpisah dengan coach Shin Tae-yong sosok yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi arsitek perubahan terbesar dalam sepakbola nasional. Bukan soal yang sederhana. Sebab STY bukan hanya pelatih, tapi juga pembentuk budaya baru di tubuh timnas. Dari pola makan, disiplin waktu, hingga mental bertanding, semuanya ia ubah pelan-pelan. Kita masih ingat bagaimana awalnya banyak pemain yang “kaget” dengan standar latihan ala Korea Selatan itu. Tapi dari situlah perubahan dimulai dan proses itu nyata. Jejak yang Tak Bisa Dihapus: Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia menapaki fase yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Diantaranya: Finalis Piala AFF 2020, dengan skuad muda penuh seman...

KETIKA RAKYAT KEHILANGAN PEMIMPIN, NAMUN TIDAK KEHILANGAN TAGIHAN

Image
Indonesia tidak baik-baik saja. Negara kita tengah berada dalam situasi darurat keamanan. Gelombang demonstrasi yang menjalar di berbagai daerah diikuti dengan tindakan anarkis. Jalanan penuh dengan ketegangan, masyarakat cemas, dan rasa aman yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara kini kian rapuh. Namun, jika kita menilik lebih dalam, persoalan ini tidak hanya bisa ditimpakan pada rakyat yang marah lalu turun ke jalan. Akar masalahnya justru lebih dalam lagi. Yaitu hilangnya kepemimpinan dari para wakil rakyat yang seharusnya menjadi penyalur aspirasi dan pelindung kepentingan masyarakat. Dalam beberapa waktu terakhir, publik disuguhi berbagai peristiwa yang menunjukkan rendahnya empati pejabat terhadap kondisi rakyat. Di tengah kesulitan ekonomi yang menjerat hampir semua lapisan, kebijakan pajak terus diberlakukan dengan beban yang semakin berat. Rakyat kecil harus berjibaku memenuhi kebutuhan hidup, sementara perilaku sebagian elite politik justru memamerkan gaya hidup jauh...

Pesan Ramadan

Image
Sejenak kita menepi dari hiruk pikuk lebaran yang memang sudah berlalu. Segala macam kegiatan lebaran hampir semua sudah kita lalui. Dari hal religius berupa kewajiban beribadah sampai pernak perniknya, entah cerita soal mudik, soal romantika bertemu saudara jauh, dan lain sebagainya. Lantas, setelah momentum ini berlalu apa yang kita dapatkan? Mudik sudah kita lakukan, silaturahmi sudah kita lalui, ibadah dari puasa, tarawih, qiroah, shodaqoh sampai zakat sudah kita tunaikan. Apa yang tertinggal dari semua itu? Kita akan memiliki berbagai perspektif untuk menjawabnya. Tapi untuk membantu menjawab perspektif mana yang akan kita pakai, kita bisa membuat pertanyaan baru untuk diri kita masing-masing "apakah sesuatu yang paling berharga yang hilang selepas lebaran ini berlalu?". Dari beberapa narasumber yang saya tanyakan jawabannya adalah uang thr habis, keseruan berkumpul dengan keluarga, kekhusyukan beribadah, dan war takjil. Oke, dari jawaban di atas saya simpulkan ada dua p...

Sepakbola itu manusia vs manusia

Image
"sejatinya, sepakbola selain soal tim manapun yang bertanding pemainnya adalah manusia. Warna kulit dan belahan bumi manapun berhak memainkan olahraga ini". Ini penggalan kalimat yang terucap tatkala saya mendapati pertanyaan,"Yok, pendapatmu apa Israel main di piala dunia u-20 di Indonesia?". Pertanyaan tersebut tak lepas dari dilematika pelaksanaan Piala Dunia U-20 yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini. Namun, penolakan terjadi dari berbagai pihak untuk melarang Israel tampil di Indonesia. Begini.... Keinginan Indonesia untuk menyelenggarakan  event Piala Dunia U-20 ini adalah inisiatif kita sendiri dan  kompetisi olahraga level internasional bukanlah kali pertama  kita selenggarakan . Banyak event sudah berlangsung di Republik ini. Ini adalah bagian dari cara Indonesia bersahabat dengan Negara luar sekaligus promosi Negara ini yang kaya akan potensi. Balik ke sepakbola  dulu . Nyawa utama sepakbola adalah permainan untuk saling mengalahkan dan memiliki pesa...

Haruskah Negeri ini tanpa sepakbola?

Image
Innalillahi wainna ilaihi raji'un... Di awal artikel ini saya ingin menyampaikan dukacita mendalam atas peristiwa kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang setelah pertandingan Liga 1 Arema Malang vs Persebaya Surabaya. Pertandingan sepakbola yang saya saksikan lewat layar kaca tersebut menelan korban ratusan orang meninggal dunia. Sepakbola sejatinya sebagai hiburan dan membangun semangat sportivitas berubah mencekam dan menakutkan. Tidak ada pertandingan yang seharga dengan nyawa manusia. Belakangan kita terbiasa dengan kalimat tersebut. Karena memang kerusuhan seakan bersahabat dengan sepakbola Indonesia. Lantas kapan nyawa manusia dikorbankan terus menerus hanya untuk sepakbola? Sampai kapan, kita akan terus berduka selepas menikmati sepakbola? Kalau kita berpikir singkat, barangkali hanya meletakkan kasus ini pada kerusuhan supporter misalkan. Tentu arah solusinya hanya pada hukuman federasi kepada klub atau panpel. Dan seperti itu sudah seperti template . Pertandingan sepakbola...