Bulan Ramadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Masjid lebih ramai, lini masa media sosial dipenuhi kutipan ayat, jadwal buka bersama bertebaran, dan promosi takjil ada di mana-mana. Ada semangat yang terasa hidup. Namun di tengah gegap gempita itu, tanpa sadar kita bisa terjebak pada satu hal yang bisa merusak niat. Yakni Ramadhan FOMO atau fear of missing out versi ibadah dan suasana. Kita takut tertinggal momen. Takut tidak ikut buka bersama. Takut tidak update story tarawih. Takut tidak terlihat religius. Padahal hakikat Ramadhan bukan soal terlihat, melainkan soal bertumbuh. Perintah berpuasa di bulan Ramadhan bertujuan untuk meningkatkan kualitas taqwa seseorang. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi latihan total untuk mengubah kebiasaan, cara berpikir, bahkan cara memandang hidup. Ia mendidik jiwa agar lebih sabar, lebih sadar, dan lebih tunduk pada aturan Allah. Puasa adalah proses pembentukan karakter seorang hamba. Namun dalam fenomena sosial yang se...
Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...