Indonesia tidak baik-baik saja. Negara kita tengah berada dalam situasi darurat keamanan. Gelombang demonstrasi yang menjalar di berbagai daerah diikuti dengan tindakan anarkis. Jalanan penuh dengan ketegangan, masyarakat cemas, dan rasa aman yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara kini kian rapuh. Namun, jika kita menilik lebih dalam, persoalan ini tidak hanya bisa ditimpakan pada rakyat yang marah lalu turun ke jalan. Akar masalahnya justru lebih dalam lagi. Yaitu hilangnya kepemimpinan dari para wakil rakyat yang seharusnya menjadi penyalur aspirasi dan pelindung kepentingan masyarakat.
Dalam beberapa waktu terakhir, publik disuguhi berbagai peristiwa yang menunjukkan rendahnya empati pejabat terhadap kondisi rakyat. Di tengah kesulitan ekonomi yang menjerat hampir semua lapisan, kebijakan pajak terus diberlakukan dengan beban yang semakin berat. Rakyat kecil harus berjibaku memenuhi kebutuhan hidup, sementara perilaku sebagian elite politik justru memamerkan gaya hidup jauh dari rasa prihatin. Ketimpangan inilah yang menimbulkan jurang ketidakpercayaan sekaligus kemarahan.
Kehilangan rasa percaya pada wakil rakyat membuat masyarakat mencari jalan lain untuk menyuarakan suara. Demonstrasi menjadi pilihan yang memang sesuai kehidupan demokratis yang kita pilih dan menjadi hak setiap warga negara. Namun, ketika suara itu lagi-lagi tak didengar, kemarahan berubah menjadi tindakan yang tak terkendali. Di titik inilah kita perlu menyadari bahwa anarkisme yang terjadi bukanlah sekadar tindakan spontan tanpa sebab. Ada pemicu yang jelas yakni ketidakpekaan para pejabat terhadap kondisi rakyat yang semakin terhimpit dan sulit.
Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan, seorang anak bangsa yang meregang nyawa hanya karena ingin menyampaikan aspirasi, seharusnya menjadi peringatan keras bagi semua pemegang jabatan dan kekuasaan. Mau sampai kapan masyarakat harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk didengar???
Kesalahan terbesar kita sebagai bangsa adalah terlalu cepat menyalahkan rakyat yang turun ke jalan, tanpa bertanya apa yang mendorong mereka sampai segitunya??? Para pejabat, khususnya yang mengaku wakil rakyat, seharusnya menjadi cermin dan teladan. Jika kondisi sudah sedemikian runyam, langkah paling bijak adalah berani legowo meletakkan jabatan demi memberi jalan bagi pemimpin yang benar-benar mau dan mampu mendengarkan rakyatnya.
Demokrasi sejatinya adalah ruang untuk mendengar, bukan menutup telinga. Jika wakil rakyat kehilangan sensitivitas, maka rakyat pun kehilangan arah. Dan saat rakyat kehilangan arah, apa yang kita saksikan hari ini hanyalah awal dari potret krisis yang lebih besar. Semoga tidak.
Selesai…

Comments