Hidup Tenang atau Senang?
Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang?
Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda.
Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam.
Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain.
Sayangnya, kehidupan modern dengan sistem kapitalisme yang begitu dominan membuat manusia cenderung mengukur nilai dirinya dari materi dan status sosial. Ukuran keberhasilan sering kali diidentikkan dengan seberapa tinggi jabatan atau seberapa besar penghasilan. Akibatnya, banyak yang rela menempuh jalan instan demi mencapai simbol-simbol kesuksesan itu.
Media sosial pun memperparah keadaan. Setiap hari, kita disuguhi potret kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Liburan mewah, mobil baru, rumah megah. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan hidup kita dengan mereka, lalu merasa tertinggal dan tak berharga. Lalu terbentuklah algoritma kebahagiaan.
Namun di balik gemerlap kesenangan itu, tak sedikit yang justru hidupnya jauh dari ketenangan.
Lihat saja beberapa kisah nyata dari dunia hiburan dan bisnis. Ada selebritas dunia yang dikenal kaya raya, terkenal, dan dielu-elukan jutaan orang, namun berakhir tragis karena depresi. Ada pula pengusaha sukses yang tampak memiliki segalanya rumah mewah, perusahaan besar, pengaruh luas namun setiap malam tak bisa tidur karena dihantui kekhawatiran kehilangan hartanya.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa kesuksesan duniawi tidak selalu identik dengan ketenangan batin.
Dalam pandangan Islam, hal ini sejatinya sudah diingatkan sejak lama.
Dalam salah satu kutipan Al-Qur’an: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan sejati tidak datang dari apa yang kita miliki, tetapi dari bagaimana kita mengingat dan mendekat kepada Sang Pemilik segalanya.
Islam tidak menolak kesenangan dunia. Bekerja, berprestasi, bahkan menikmati hasil usaha adalah bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar. Namun, Islam mengajarkan keseimbangan: dunia dijalani dengan penuh tanggung jawab, tanpa melupakan akhirat sebagai tujuan utama.
Kunci ketenangan sejati adalah pengelolaan hati.
Ketika hati bersih dari iri, sombong, dan kerakusan, maka hidup terasa lapang meski sederhana. Tapi bila hati penuh ambisi dan keinginan tanpa batas, maka sekalipun dunia diberikan, tetap akan terasa kurang.
Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bukanlah kekayaan itu banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, ketenangan bukan soal berapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa lapang hati kita menerima apa adanya dari upaya optimal yang kita lakukan.
Jadi, sebelum terlalu jauh mengejar kesenangan yang belum tentu menenangkan, mungkin kita perlu berhenti sejenak. Tanyakan pada diri sendiri: apakah semua pencapaian ini benar-benar membuat hati damai? Atau justru membuat kita semakin gelisah dan kehilangan arah?
Hidup tenang dan hidup senang memang bisa berjalan beriringan, asalkan kita mampu menempatkan keduanya pada porsi yang tepat. Senang itu anugerah, tapi tenang adalah kebutuhan jiwa.
Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar tawa di wajah, melainkan kedamaian di hati.
Selesai.

Comments