Skip to main content

Hindari Ramadhan FOMO!

Bulan Ramadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Masjid lebih ramai, lini masa media sosial dipenuhi kutipan ayat, jadwal buka bersama bertebaran, dan promosi takjil ada di mana-mana. Ada semangat yang terasa hidup. Namun di tengah gegap gempita itu, tanpa sadar kita bisa terjebak pada satu hal yang bisa merusak niat. Yakni Ramadhan FOMO atau fear of missing out versi ibadah dan suasana. Kita takut tertinggal momen. Takut tidak ikut buka bersama. Takut tidak update story tarawih. Takut tidak terlihat religius. Padahal hakikat Ramadhan bukan soal terlihat, melainkan soal bertumbuh.

Perintah berpuasa di bulan Ramadhan bertujuan untuk meningkatkan kualitas taqwa seseorang. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi latihan total untuk mengubah kebiasaan, cara berpikir, bahkan cara memandang hidup. Ia mendidik jiwa agar lebih sabar, lebih sadar, dan lebih tunduk pada aturan Allah. Puasa adalah proses pembentukan karakter seorang hamba.

Namun dalam fenomena sosial yang sering terjadi, banyak orang masih memaknai Ramadhan hanya pada aspek fisik semata. Fokusnya berhenti pada menahan makan dan minum dari subuh hingga maghrib. Akibatnya, yang terlihat justru penurunan produktivitas, jam tidur yang bertambah, energi yang terasa habis, bahkan pikiran yang lebih sibuk memikirkan menu takjil daripada kualitas sholat.

Seolah-olah Ramadhan adalah bulan untuk “memperlambat segalanya”, bukan “meningkatkan kualitas segalanya”.

Padahal semestinya yang ditambah bukanlah waktu rebahan, tetapi waktu sujud. Bukan hanya daftar menu berbuka, tetapi daftar amal yang diperbaiki. Ramadhan seharusnya menjadi momentum menambah sholat sunah, memperbanyak tilawah, meluaskan shodaqoh, dan meluangkan waktu belajar ilmu agama. Di bulan inilah kita diberi ruang untuk melakukan upgrade ruhani.

Jika di bulan biasa kita sibuk mengejar target dunia, maka di bulan Ramadhan target utama adalah perbaikan diri. Bukan sekadar kuat menahan haus, tetapi kuat menahan amarah. Bukan hanya disiplin waktu makan, tetapi disiplin menjaga lisan dan pikiran. Bukan hanya mengurangi asupan fisik, tetapi juga mengurangi dosa dan kelalaian.

Ramadhan bukan tentang siapa yang paling sering posting kegiatan ibadahnya, melainkan siapa yang paling jujur memperbaiki hatinya. Ia adalah ruang sunyi antara hamba dan Tuhannya. Di sana, yang dinilai bukan penampilan, tetapi keikhlasan.

Mari hindari Ramadhan FOMO. Jangan hanya ikut arus suasana tanpa memperdalam makna. Jadikan bulan ini sebagai laboratorium taqwa sekaligus tempat kita menguji kesungguhan, melatih konsistensi, dan membangun mindset baru sebagai hamba yang lebih sadar akan tujuan hidupnya.

Karena pada akhirnya, yang kita bawa selepas Ramadhan bukan foto-foto kebersamaan, bukan daftar kuliner yang telah dicoba, tetapi perubahan diri yang nyata. Jika Ramadhan berlalu tanpa peningkatan taqwa, mungkin yang kita jalani baru sebatas lapar dan haus.

Semoga Ramadhan kali ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi titik balik perjalanan iman kita.

Wallahu a'lam bish-shawab...



Comments

Popular posts from this blog

Hidup Tenang atau Senang?

Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...

"molimo"

Ada sebuah ungkapan unik yang menggambarkan problematika mertua dengan menantu. Ungkapan atau istilah tersebut saya dengar pertama kali disingkat dengan kata “molimo”. Pada awalnya saya mengenal istilah tersebut adalah   singkatan dari beberapa kata perbuatan tercela dalam masyarakat seperti maling, madat, madon, main dan minum. Tetapi ternyata ada singkatan lain dari ungkapan “molimo” tersebut, yakni madep mantep mangan melu moro tuo, moro tuo muni-muni mantu minggat, moro tuo mati mantu marisi . Dalam bahasa Indonesia ungkapan tersebut kurang lebih berarti keyakinan ikut makan dan tinggal dengan mertua, mertua marah-marah menantu pergi dari rumah, mertua meninggal kemudian menantu mendapatkan warisan” . Dalam menyingkat istilah tersebut ada beberapa perbedaan, selain “molimo” ada yang menyebut dengan istilah “mosongo” atau “molimolas” dan lain sebagainya. Istilah ini familiar di telinga saya sendiri, saya pun terkadang juga memakai istilah ini sekedar untuk guyonan say...

Impian Tampil di Piala Dunia digagalkan Ego PSSI

Berbagai cerita manis telah ditorehkan Sepakbola Nasional. Asa untuk menorehkan sejarah baru, untuk menatap panggung yang selama ini hanya jadi mimpi, Piala Dunia. Tapi di tengah perjalanan itu, terasa badai datang bukan dari lawan di lapangan, melainkan dari keputusan di meja federasi. PSSI memilih berpisah dengan coach Shin Tae-yong sosok yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi arsitek perubahan terbesar dalam sepakbola nasional. Bukan soal yang sederhana. Sebab STY bukan hanya pelatih, tapi juga pembentuk budaya baru di tubuh timnas. Dari pola makan, disiplin waktu, hingga mental bertanding, semuanya ia ubah pelan-pelan. Kita masih ingat bagaimana awalnya banyak pemain yang “kaget” dengan standar latihan ala Korea Selatan itu. Tapi dari situlah perubahan dimulai dan proses itu nyata. Jejak yang Tak Bisa Dihapus: Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia menapaki fase yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Diantaranya: Finalis Piala AFF 2020, dengan skuad muda penuh seman...