Skip to main content

Santri dalam Reformasi Akhlak!

Bismillah...

Kalau kita menengok ke belakang, sejarah bangsa ini tidak bisa dilepaskan dari peran besar para santri. Dari pesantren-pesantren kecil di pelosok hingga yang besar di kota, para santri turun langsung berjuang mempertahankan kemerdekaan. Mereka bukan hanya belajar kitab kuning, tapi juga mempertaruhkan darah merah membawa semangat jihad membela tanah air.

Salah satu tonggak pentingnya adalah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang digagas oleh KH. Hasyim Asy’ari. Seruan itu menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah bagian dari ibadah. Dari situlah lahir semangat perlawanan yang akhirnya memuncak dalam Pertempuran 10 November di Surabaya. Artinya, santri bukan cuma bagian dari sejarah agama, tapi juga sejarah kemerdekaan bangsa.


Namun perjuangan tidak berhenti di situ. Setelah kemerdekaan diraih, medan perjuangan bergeser. Musuh bangsa hari ini bukan lagi penjajah bersenjata, tapi penyakit moral yang diam-diam menggerogoti sendi kehidupan kita. Korupsi, ketidakjujuran, penyalahgunaan jabatan, dan hilangnya rasa malu, semua itu membuat kita sadar bahwa akhlak kesantrian kini menjadi barang sangat langka dan mahal.


Ironisnya, banyak pejabat yang dalam penampilan dan tutur katanya tampak religius ala santri, tapi tindakannya jauh dari nilai-nilai kesantrian. Menurut data KPK, hingga 2024 sudah lebih dari 1.300 pejabat publik terseret kasus korupsi. Mulai dari kepala daerah, anggota DPR, bahkan beberapa menteri. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi cermin betapa moral dan integritas sering kali kalah oleh ambisi dan kekuasaan.


Padahal, nilai-nilai santri seharusnya bisa jadi contoh. Santri diajarkan untuk jujur, amanah, sederhana, dan penuh tanggung jawab. Di pesantren, santri terbiasa hidup prihatin, disiplin waktu, dan menghormati ilmu. Nilai-nilai ini jika diterapkan dalam kehidupan publik, tentu semangat kesantrian ini bisa membawa perubahan besar bagi bangsa.


Hari Santri bukan sekadar perayaan atau momen memakai sarung dan peci, lalu berfoto bersama di media sosial. Ini saat yang tepat untuk introspeksi, baik bagi santri maupun masyarakat luas. Apakah kita masih memegang nilai-nilai kesantrian itu? Atau justru mulai kehilangan ruhnya, tergoda oleh gemerlap dunia yang membuat lupa daratan?


Beberapa waktu terakhir, publik juga dihebohkan oleh kabar dugaan aliran dana korupsi yang menyeret nama organisasi besar di kalangan santri. Kasus ini memang masih dalam proses hukum, tapi apapun hasilnya, santri sejati harus berani bersuara. Jika benar ada pihak yang mengaku santri tapi terlibat dalam tindakan tercela, berarti ada yang salah dengan cara kita memahami “kesantrian”.


Santri sejati bukan hanya orang yang rajin ngaji, tapi juga mereka yang berani menegakkan kebenaran, bahkan terhadap sesama santri sendiri. Kesantrian bukan hanya soal penampilan, tapi soal sikap hidup jujur, berilmu, dan tidak silau oleh kekuasaan.


Kita butuh lebih banyak santri sekaligus sikap kesantrian di ruang-ruang publik, di kantor pemerintahan, di dunia pendidikan, di media, dan di dunia bisnis yang membawa nilai-nilai akhlak dan integritas. Bukan untuk menguasai, tapi untuk membersihkan dan membenahi. Inilah reformasi akhlak.


Reformasi akhlak memang tidak bisa dilakukan hanya dengan ceramah atau slogan. Ia harus dimulai dari diri sendiri. Dari cara kita bersikap, memegang amanah, dan menghormati kebenaran meski sering terasa pahit.


Semoga di Hari Santri ini, para santri di seluruh Indonesia bisa terus menjaga “kesantrian” mereka. Tetap sederhana tapi berpengaruh. Tetap rendah hati tapi berani bersuara. Dan semoga dari pesantren-pesantren itu, lahir generasi baru yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kuat secara moral dan akhlak karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan dibangun oleh orang-orang pintar, tapi oleh mereka yang berakhlak benar.


Wallahu a'lam bish-shawab.



Comments

Popular posts from this blog

Hidup Tenang atau Senang?

Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...

"molimo"

Ada sebuah ungkapan unik yang menggambarkan problematika mertua dengan menantu. Ungkapan atau istilah tersebut saya dengar pertama kali disingkat dengan kata “molimo”. Pada awalnya saya mengenal istilah tersebut adalah   singkatan dari beberapa kata perbuatan tercela dalam masyarakat seperti maling, madat, madon, main dan minum. Tetapi ternyata ada singkatan lain dari ungkapan “molimo” tersebut, yakni madep mantep mangan melu moro tuo, moro tuo muni-muni mantu minggat, moro tuo mati mantu marisi . Dalam bahasa Indonesia ungkapan tersebut kurang lebih berarti keyakinan ikut makan dan tinggal dengan mertua, mertua marah-marah menantu pergi dari rumah, mertua meninggal kemudian menantu mendapatkan warisan” . Dalam menyingkat istilah tersebut ada beberapa perbedaan, selain “molimo” ada yang menyebut dengan istilah “mosongo” atau “molimolas” dan lain sebagainya. Istilah ini familiar di telinga saya sendiri, saya pun terkadang juga memakai istilah ini sekedar untuk guyonan say...

Impian Tampil di Piala Dunia digagalkan Ego PSSI

Berbagai cerita manis telah ditorehkan Sepakbola Nasional. Asa untuk menorehkan sejarah baru, untuk menatap panggung yang selama ini hanya jadi mimpi, Piala Dunia. Tapi di tengah perjalanan itu, terasa badai datang bukan dari lawan di lapangan, melainkan dari keputusan di meja federasi. PSSI memilih berpisah dengan coach Shin Tae-yong sosok yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi arsitek perubahan terbesar dalam sepakbola nasional. Bukan soal yang sederhana. Sebab STY bukan hanya pelatih, tapi juga pembentuk budaya baru di tubuh timnas. Dari pola makan, disiplin waktu, hingga mental bertanding, semuanya ia ubah pelan-pelan. Kita masih ingat bagaimana awalnya banyak pemain yang “kaget” dengan standar latihan ala Korea Selatan itu. Tapi dari situlah perubahan dimulai dan proses itu nyata. Jejak yang Tak Bisa Dihapus: Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia menapaki fase yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Diantaranya: Finalis Piala AFF 2020, dengan skuad muda penuh seman...