Skip to main content

Romantisme Iktikaf

Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi Umat Muslim. Bulan tersebut didalamnya terdapat banyak sekali keberkahan yang diberikan Allah SWT bagi siapa saja yang menjalankannya. Tiap kebaikan dilipatgandakan, pintu maaf dibuka selebar-lebarnya dan rahmat Allah SWT diberikan seluas-luasnya. Selain itu, Al-Qur'an yang merupakan buku petunjuk bagi seluruh alam semesta juga turun di bulan ini. Bahkan, secara khusus Allah SWT menyebut satu malam khusus dalam satu surat yaitu surat Al-Qadr. Keistimewaan malam tersebut selain merupakan turunnya Al-Qur'an, Allah SWT juga menurunkan para malaikatnya untuk membantu urusan duniawi manusia. Setiap kebaikan akan bernilai seribu bulan atau lebih dari 83 tahun. Malam tersebut adalah malam Lailatul Qadar. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar turun dimalam ganjil sepuluh hari terakhir pada Bulan Ramadhan.

Malam inilah yang menjadikan motivasi tambahan untuk mempertahankan kualitas ibadah di hari-hari terakhir bulan puasa. Untuk itulah banyak orang melakukan iktikaf untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar. Iktikaf merupakan kegiatan menetap di masjid untuk dzikir sekaligus muhasabah diri. Malam Lailatul Qadar adalah satu bukti kasih sayang Allah SWT kepada umatNya. Meskipun begitu banyak diantara kita yang masih abai. Mungkin saya salah satunya. Barangkali diri saya sendiri ini juga masih jauh dariNya.

Cinta kita terhadap dunia terlampau besar. Seringkali kita mengabaikan panggilan sholat dengan alasan pekerjaan. Seringkali kita membiarkan Al-Qur'an tergeletak di lemari tersusun rapi hanya sebagai hiasan. Seringkali kaki kita melangkah lebih mudah ke tempat hiburan daripada ke masjid dan majelis ilmu. Seringkali kita mengharapkan pujian dan jabatan dari sesama manusia daripada mencari ridho Allah SWT. Seringkali lisan ini berucap menyakitkan bagi orang lain, seringkali mata ini melihat hal kemungkaran. Astaghfirullah... Dan masih banyak lagi  berbagai kelalaian dan dosa yang sering tidak kita sadari.

Tapi Allah SWT? 

CintaNya tak pernah padam. Mata, mulut, hati, pikiran dan langkah kita masih bisa bergerak. Nyawa kita masih diberikan kesempatan menemani jasad ini. Allah masih menunggu sambutan Cinta dari kita. Melalui hembusan angin kita masih merasakan sejuknya hidup. Melalui segarnya udara kita masih bisa bernafas. Melalui indahnya pelangi kita masih bisa melihat indahnya dunia. Itu semua siapa? Itu semua cintanya Allah SWT. Allah hadir dalam tiap jengkal hidup kita, bahkan ketika kita bermaksiat sekalipun. Bulan inilah yang dipersiapkan Allah agar kita mau kembali. Seandainya kita belum terketuk untuk kembali kejalan Allah, Allah SWT cuma pingin hanya sebulan dekat dengan hambaNya yang begitu ia cintai atau bahkan hanya semalam di malam Lailatul Qadar. Sebangsat apapun kita, seberapa besar dosa kita, seberapa durhaka kita terhadap orang tua, seberapa sering kita berzina, seberapa kelam masalalu kita Allah masih menunggu taubat kita.

Allah SWT adalah dzat yang Maha Romantis. Tidak ada cinta yang bisa menandingi cintaNya terhadap kita.

Bagi saya inilah salah satu momen terbaik di Bulan Ramadhan ketika iktikaf. Saat dimana manusia begitu dekat dengan Tuhannya Allah SWT. Semalam penuh berada di tempat terbaik (masjid) lisan mengucap berbagai dzikir, pikiran mengingat banyaknya dosa yang telah kita lakukan untuk bertaubat, membaca ayat demi ayat Alqur'an, bahkan tak jarang air mata menetes karena merasa sangat dekatnya dengan Allah SWT.

Pada akhirnya romantisme iktikaf di Bulan Ramadhan ini akan memaksa diri ini menuju jalan CintaNya. Seandainya cinta kita saat ini sudah habis untuk sesama mahluk, kita akan sadar semua yang kita sayangi dan miliki di dunia ini hanyalah titipan dan bahkan gimick hidup semata.

Akhir tulisan ini, biarkan tetesan air mata kita ketika iktikaf menjadi sedikit bukti bahwa kita berusaha membalas cinta Allah SWT. Kalau kita merasa punya mantan, istri/suami paling romantis, Allah lebih romantis dari itu. Kalau kita punya teman atau atasan yang sering memuji, sering memberikan kita jabatan, Allah lebih dari itu. Kalau kita merasa ada puisi dan ucapan gombal paling romantis yang membuat kita melayang, Allah lebih dari itu melalui tiap wahyuNya di dalam Al-Qur'an.

Jangan biarkan diakhir romantisme hidup kita salah memilih cinta. Mari kita sambut "PDKT" Allah SWT dengan menjadi umat terbaikNya. Sehingga diakhir hayat bisa menyebut Laa ilaaha illallah dan kita bisa "jadian" dengan Allah SWT. Hal yang sangat romantis dan indah.

Wallahu a'lam bish-shawab

Kegiatan iktikaf


Comments

Popular posts from this blog

Hidup Tenang atau Senang?

Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...

"molimo"

Ada sebuah ungkapan unik yang menggambarkan problematika mertua dengan menantu. Ungkapan atau istilah tersebut saya dengar pertama kali disingkat dengan kata “molimo”. Pada awalnya saya mengenal istilah tersebut adalah   singkatan dari beberapa kata perbuatan tercela dalam masyarakat seperti maling, madat, madon, main dan minum. Tetapi ternyata ada singkatan lain dari ungkapan “molimo” tersebut, yakni madep mantep mangan melu moro tuo, moro tuo muni-muni mantu minggat, moro tuo mati mantu marisi . Dalam bahasa Indonesia ungkapan tersebut kurang lebih berarti keyakinan ikut makan dan tinggal dengan mertua, mertua marah-marah menantu pergi dari rumah, mertua meninggal kemudian menantu mendapatkan warisan” . Dalam menyingkat istilah tersebut ada beberapa perbedaan, selain “molimo” ada yang menyebut dengan istilah “mosongo” atau “molimolas” dan lain sebagainya. Istilah ini familiar di telinga saya sendiri, saya pun terkadang juga memakai istilah ini sekedar untuk guyonan say...

Impian Tampil di Piala Dunia digagalkan Ego PSSI

Berbagai cerita manis telah ditorehkan Sepakbola Nasional. Asa untuk menorehkan sejarah baru, untuk menatap panggung yang selama ini hanya jadi mimpi, Piala Dunia. Tapi di tengah perjalanan itu, terasa badai datang bukan dari lawan di lapangan, melainkan dari keputusan di meja federasi. PSSI memilih berpisah dengan coach Shin Tae-yong sosok yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi arsitek perubahan terbesar dalam sepakbola nasional. Bukan soal yang sederhana. Sebab STY bukan hanya pelatih, tapi juga pembentuk budaya baru di tubuh timnas. Dari pola makan, disiplin waktu, hingga mental bertanding, semuanya ia ubah pelan-pelan. Kita masih ingat bagaimana awalnya banyak pemain yang “kaget” dengan standar latihan ala Korea Selatan itu. Tapi dari situlah perubahan dimulai dan proses itu nyata. Jejak yang Tak Bisa Dihapus: Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia menapaki fase yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Diantaranya: Finalis Piala AFF 2020, dengan skuad muda penuh seman...