Skip to main content

3 Tahun Menjadi Bapak


Sudah barang tentu menjadi sebuah kebahagiaan ketika kita dikaruniai seorang Anak. Hal itu pula yang saya rasakan tatkala Istri yang beberapa bulan setelah saya Nikahi memberi kabar bahwa ia positif hamil. "Alhamdulillah...", ucap saya ketika itu.
Hampir keguguran, mengalami kontraksi semu kemudian dilarikan ke Rumah Sakit serta permintaan Istri paling aneh adalah es degan di malam hari menjadi warna tersendiri selama proses kehamilan.

Singkat cerita Alhamdulillah, waktu yang dinanti datang juga. Bertepat di RSI Kustati anak pertama saya lahir dengan normal.
Mobil ambulan yang membawa Istri saya tiba di RSI Kustati
Sabtu (28/2) Tahun 2015 mobil ambulan yang membawa Istri saya tiba di Rumah Sakit sekitar pukul 17.30 WIB. Anak saya lahir pada pukul 21.55 WIB dengan BB 2.4 Kg dan TB 46 Cm. Rasa syukur dan kebahagiaan yang saya rasakan ketika melihat secara langsung proses kelahiran. Meskipun awalnya ngeri melihat alat-alat operasi di ruang persalinan.
Saya merasa beruntung bisa menemani Istri selama proses persalinan. Disana saya hanya berdoa, memotivasi dan terus mengingatkan Istri agar tetap berdoa untuk melawan rasa sakit yang amat menyiksa.

Hari pertama di dunia
Keesokan harinya setelah proses kelahiran, kami (dengan Istri) sepakat menamai anak kami "NUR WAFA ATHIRAH". Nama dadakan sederhana yang kami berikan, dikarenakan nama yang sudah kami siapkan beberapa minggu sebelumnya batal kami sematkan. Pembatalan tersebut dikarenakan nama-nama tersebut susah diucapkan dan susah dituliskan. Nama-nama yang biasanya dipakai oleh bayi jaman now. hehe..
Nama tersebut dasarnya kami pilih karena maknyanya dan pas dengan dimana kami berasal (di Jawa) serta mudah diucapkan, diingat, dan ditulis. Sebuah filosofi yang kami harapkan Anak kami kelak dapat diterima semua orang dengan mudah dan gampangan dalam membantu sesama.
Selang sehari Istri saya istrirahat di Rumah Sakit, Alhamdulilah, sore harinya  Istri dan Anak saya sudah diijinkan Dokter untuk pulang ke Rumah.

Sahabat saya ketika menjenguk di Rumah Sakit sehari setelah kelahiran
Istri dan Anak saya ketika keluar meninggalkan Rumah Sakit
Saya sangat berterima kasih dengan keluarga besar saya yang sangat membantu adaptasi saya sebagai orang tua baru. Saya secara pribadi belajar banyak dari masukan kakak-kakak. Yang secara kebetulan saya dan Istri sama-sama sebagai Anak terakhir di keluarga kami.

Waktu terus berjalan, saya sangat menikmati peran baru saya sebagai Bapak. Sebuah fase dimana saya menyadari bahwa diri saya juga harus upgrade dari sebelumnya. Jika sebelumnya saya hanya dititipi seorang Istri, kini Allah SWT mempercayai saya dengan menitipkan seorang Anak. Sebuah kepercayaan yang akan saya jaga dengan penuh tanggung jawab. Dari kesadaran itulah saya merasa saya harus lebih dewasa dalam berpikir maupun bertindak.

Minggu pertama Wafa berada di rumah
Tak terasa, hari ini tepat 3 Tahun saya menjadi seorang Bapak. Waktu yang sangat cepat saya habiskan untuk bermain dan tertawa bersama buah hati saya. Kata "Bapak" adalah kosa kata pertama Wafa yang terucap dari bibirnya. Kelucuannya, tingkah lakunya menjadi obat mujarab ketika saya penat akan kehidupan sehari-hari.

Keluarga kecil saya
Sangat menggemaskan
Sejak menjadi seorang Bapak, sejak saat itu pula saya berkomitmen akan menadikan Wafa wanita ke dua yang akan jatuh cinta pada saya. Caranya bagaimana?. Caranya mirip-mirip dengan yang saya lakukan kepada Ibunya Wafa. Dengan cara memberi perhatian, memberi kabar, memberikan sesuatu yang diinginkan, mentraktir, kadang ngrayu dan lain-lain. Pokoknya sesuatu yang akan dilakukan Laki-laki untuk perempuan yang ia cintai.

Sebelum kerja pamit dulu

Dongeng sebelum tidur
Biarkan Ibukmu Istirahat Nak..

"FAFA", begitu saya memanggilnya
Nangis pun tetap lucu, ya..
Proses menadi Bapak secara penuh kelak akan berakhir ketika kita menikahkan Anak perempuan kita. Kita tidak perlu bingung memilih mantu berkualitas, jika Anak kita mengenal Cinta dari Bapaknya, dia akan tahu harus mencari imam seperti apa untuk Rumah Tangganya kelak. Insya Allah. Karena hipotesis itulah saya harus membuat anak saya jatuh cinta pada saya.

Lucu, ya...
Inilah sepenggal kisah 3 Tahun saya bersama NUR WAFA ATHIRAH. Foto-foto ini yang akan melanjutkan cerita tentang Anak saya dan saya sendiri. 

Nge-mall pertama
Latihan mengkurep
Wafa berusia 1 Tahun
Renang bersama Ibunya
Memperkenalkan olahraga sejak dini

Sejak tinggal di Jebres, Wafa sekolah di Permata Hati
Kini, ia berusia 3 Tahun
Selesai...

Comments

Popular posts from this blog

Hidup Tenang atau Senang?

Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...

"molimo"

Ada sebuah ungkapan unik yang menggambarkan problematika mertua dengan menantu. Ungkapan atau istilah tersebut saya dengar pertama kali disingkat dengan kata “molimo”. Pada awalnya saya mengenal istilah tersebut adalah   singkatan dari beberapa kata perbuatan tercela dalam masyarakat seperti maling, madat, madon, main dan minum. Tetapi ternyata ada singkatan lain dari ungkapan “molimo” tersebut, yakni madep mantep mangan melu moro tuo, moro tuo muni-muni mantu minggat, moro tuo mati mantu marisi . Dalam bahasa Indonesia ungkapan tersebut kurang lebih berarti keyakinan ikut makan dan tinggal dengan mertua, mertua marah-marah menantu pergi dari rumah, mertua meninggal kemudian menantu mendapatkan warisan” . Dalam menyingkat istilah tersebut ada beberapa perbedaan, selain “molimo” ada yang menyebut dengan istilah “mosongo” atau “molimolas” dan lain sebagainya. Istilah ini familiar di telinga saya sendiri, saya pun terkadang juga memakai istilah ini sekedar untuk guyonan say...

Impian Tampil di Piala Dunia digagalkan Ego PSSI

Berbagai cerita manis telah ditorehkan Sepakbola Nasional. Asa untuk menorehkan sejarah baru, untuk menatap panggung yang selama ini hanya jadi mimpi, Piala Dunia. Tapi di tengah perjalanan itu, terasa badai datang bukan dari lawan di lapangan, melainkan dari keputusan di meja federasi. PSSI memilih berpisah dengan coach Shin Tae-yong sosok yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi arsitek perubahan terbesar dalam sepakbola nasional. Bukan soal yang sederhana. Sebab STY bukan hanya pelatih, tapi juga pembentuk budaya baru di tubuh timnas. Dari pola makan, disiplin waktu, hingga mental bertanding, semuanya ia ubah pelan-pelan. Kita masih ingat bagaimana awalnya banyak pemain yang “kaget” dengan standar latihan ala Korea Selatan itu. Tapi dari situlah perubahan dimulai dan proses itu nyata. Jejak yang Tak Bisa Dihapus: Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia menapaki fase yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Diantaranya: Finalis Piala AFF 2020, dengan skuad muda penuh seman...