Skip to main content

Ketidakberdayaan Menghadapi Virus Corona

Virus Corona telah mengobok-obok hidup kita. Melihat cepat dan mudah nya penularan, sepertinya kita tinggal menunggu waktu untuk terpapar. Bukannya pesimistis, tapi kebimbangan kebijakan penanganan virus Corona ini menanggung konsekuensi semakin luasnya penyebaran. Itu fakta dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda berkurangnya kasus ini.
Tak bijak juga menyalahkan Pemerintah yang dalam hal ini memiliki otoritas penuh. Kebijakan yang nampak ambigu memang menanggung semakin menggilanya virus ini. Pemerintah hanya bisa menghimbau masyarakat untuk meminimalisir aktivitas diluar rumah yang diyakini akan menghentikan penyebaran virus ini. Tapi apakah mempan? Nyatanya tidak. Banyak faktor penyebabnya. Faktor tingginya jumlah pekerja harian lepas menuntut mereka tetap beraktivitas seperti biasa. Beberapa sektor industri juga sulit menghentikan produksi mereka karena tingginya cost yang harus ditanggung jika harus "merumahkan" karyawannya.
Faktor lainnya adalah lemahnya kedisiplinan dan tingkat pendidikan masyarakat kita sehingga tidak disiplin dalam menerapkan anjuran social distancing. Work frome home dan belajar dirumah seperti diartikan sebagai liburan. Kemudian belum lagi perdebatan cara beribadah yang dianjurkan untuk sementara di dalam rumah masing-masing masih dianggap hal tabu dan pembangkangan hukum Agama. Melihat faktor ini semestinya lock down bisa jadi solusi, bukan hanya sebatas social distancing.
Tapi, dampak yang paling menakutkan adalah dampak ekonomi apabila tidak bisa menghentikan penyebaran dengan anjuran pembatasan aktivitas luar rumah. Melihat aspek ini nampaknya kita akan mulai memahami betapa beratnya beban Pemerintah saat ini. Serba dilematis diantara pilihan yang sangat sulit.
Satu sisi kita tidak bisa melarang sebagian masyarakat tetap beraktivitas, karena itu sebagai mata pencarian mereka. Satu sisi lainnya kita tidak bisa menutup mata pula bahwa disitulah mata rantai virus tersebar. Bahkan sudah banyak kasus ditemui ada pasien positif yang tak menampakkan gejala apapun dan nampak sehat. Sehingga dia pembawa virus yang terus menerus menyebar hingga menyerang orang tua yang merupakan resiko tertinggi.
Maka dari itulah beberapa Negara lain sudah memutuskan lock down untuk memaksa putusnya mata rantai penyebaran virus.
Saya pribadi berharap sama dengan kalian semua, beberapa langkah yang sudah diambil Pemerintah bisa segera mengatasi dan menghentikan penyebaran virus ini tanpa harus mengambil langkah lock down.

Pikiran negatif saya mengatakan ada manusia-manusia yang sengaja bermain dalam kasus ini. Dunia ini memang sengaja diatur sedemikian rupa melalui virus corona ini sehingga dampak penurunan ekonomi akan dirasakan di banyak Negara. Dalam periode waktu tertentu nantinya, akan ada "pahlawan kesiangan" datang menyelamatkan ekonomi suatu Negara tersebut secara masal. Yang namanya diselamatkan pasti ada negosiasi, lah. Negosiasi yang tentu akan mengarah pada urusan ekonomi politik. Yang akhirnya akan menguntungkan kelompok "pahlawan kesiangan" tadi. Inilah fitnah dunia yang teramat besar yang akan sulit dibuktikan secara kasat mata. Dan akhirnya saya cuma bisa bilang wallahu a’lam bis-shawab. Dan semoga pikiran negatif saya ini salah.
Tapi apapun itu, diluar teori konspirasi yang sulit dibuktikan, dibalik menggilanya virus corona ini sudah menjadi bagian dari ketentuan Allah SWT. Segalanya tidak akan terjadi tanpa seizin Allah SWT. Semua dalam kendali dan kuasa Nya.
Biar bagaimanapun virus yang merupakan mahluk yang amat kecil tersebut sekarang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. 
Pikiran positif saya adalah virus ini diciptakan dan diizinkan Allah SWT turun ke Bumi untuk menguji kita sebagai manusia agar ingat tugas kehidupan sebenarnya.
Nhah, sampai sini akan berbeda-beda penafsiran. Karena tingkat kepercayaan dan kedekatan dengan Allah SWT berbeda-beda.
Tapi Allah SWT saat ini membawa kita semua pada persamaan. Sehebat apapun kita, kita semua sama-sama kalah sama mahluk kecil bernama virus corona.

Lantas kebanggaan apa lagi kita pada hidup ini?
Mungkin hadirnya virus corona memang ingin mengembalikan kita pada esensi kehidupan sebagai mahluk Allah SWT. Keberhasilan corona mengalahkan dan menghebohkan dunia ditengah canggihnya teknologi dan ilmu science membuktikan bahwasanya dunia ini sangatlah kecil dan sepele.

Ayo, kawan. Melalui artikel ini saya ingin membangun optimisme. Meskipun menghebohkan, Covid-19 tidak mematikan, kok. Ahli kesehatan sudah mengatakan prosentase sehat kembali mencapai 97%. Jauh dari penyakit-penyakit yang sudah ada sebelumnya.
Saat ini kita hanya perlu menjaga pola hidup sehat dan disiplin mematuhi anjuran pemerintah. Dan terakhir, ini saatnya kita sujud dan tertunduk bahwa sehebat apapun kita sebagai manusia kita sangat lemah. Saatnya kita kembali kepada yang paling berkuasa atas kehidupan ini. Siapa itu? Silahkan disimpulkan.

Selesai. 



Comments

Popular posts from this blog

Hidup Tenang atau Senang?

Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...

"molimo"

Ada sebuah ungkapan unik yang menggambarkan problematika mertua dengan menantu. Ungkapan atau istilah tersebut saya dengar pertama kali disingkat dengan kata “molimo”. Pada awalnya saya mengenal istilah tersebut adalah   singkatan dari beberapa kata perbuatan tercela dalam masyarakat seperti maling, madat, madon, main dan minum. Tetapi ternyata ada singkatan lain dari ungkapan “molimo” tersebut, yakni madep mantep mangan melu moro tuo, moro tuo muni-muni mantu minggat, moro tuo mati mantu marisi . Dalam bahasa Indonesia ungkapan tersebut kurang lebih berarti keyakinan ikut makan dan tinggal dengan mertua, mertua marah-marah menantu pergi dari rumah, mertua meninggal kemudian menantu mendapatkan warisan” . Dalam menyingkat istilah tersebut ada beberapa perbedaan, selain “molimo” ada yang menyebut dengan istilah “mosongo” atau “molimolas” dan lain sebagainya. Istilah ini familiar di telinga saya sendiri, saya pun terkadang juga memakai istilah ini sekedar untuk guyonan say...

Impian Tampil di Piala Dunia digagalkan Ego PSSI

Berbagai cerita manis telah ditorehkan Sepakbola Nasional. Asa untuk menorehkan sejarah baru, untuk menatap panggung yang selama ini hanya jadi mimpi, Piala Dunia. Tapi di tengah perjalanan itu, terasa badai datang bukan dari lawan di lapangan, melainkan dari keputusan di meja federasi. PSSI memilih berpisah dengan coach Shin Tae-yong sosok yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi arsitek perubahan terbesar dalam sepakbola nasional. Bukan soal yang sederhana. Sebab STY bukan hanya pelatih, tapi juga pembentuk budaya baru di tubuh timnas. Dari pola makan, disiplin waktu, hingga mental bertanding, semuanya ia ubah pelan-pelan. Kita masih ingat bagaimana awalnya banyak pemain yang “kaget” dengan standar latihan ala Korea Selatan itu. Tapi dari situlah perubahan dimulai dan proses itu nyata. Jejak yang Tak Bisa Dihapus: Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia menapaki fase yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Diantaranya: Finalis Piala AFF 2020, dengan skuad muda penuh seman...