Skip to main content

Belajar dari Ferdy sambo dan Farel Prayoga

Jika pepatah mengatakan guru terbaik adalah pengalaman, maka kita bisa belajar dari pengalaman siapapun. Entah itu pengalaman kita sendiri maupun orang lain. Bedanya kalau pengalaman sendiri yang buruk biasanya kita melalui fase penyesalan. Tapi kalau pengalaman dari orang lain kita akan lebih bijak agar hal-hal buruk bisa kita hindari lebih dini.

Berkaca dari apa yang menimpa dua sosok yang sedang trending di media saat ini kita bisa belajar banyak hal.

Yang pertama dari Ferdy Sambo. Perjalanan karir sebagai polisi tergolong mentereng khususnya di bidang reserse. Ferdy Sambo Mengawali karir dengan lulus Akpol tahun 1994 karir kepolisian Sambo melesat hingga berpangkat Inspektur Jenderal Polisi. Berbagai jabatan penting pernah ia emban di institusi Kepolisian Indonesia. Pernah menjabat Kasatreskrim Jakarta, Kapolres di Purbalingga dan Jawa Tengah, Direktur di Bareskrim, hingga Kadiv propam. 

Tapi apa boleh buat, seketika prestasi dan jabatan tersebut harus hilang karena sebuah kesalahan. Kesuksesan yang ia raih kini hancur sudah seperti kata pepatah "karena nilai setitik, rusak susu sebelanga". Deretan prestasi Ferdy Sambo yang pernah mengungkap banyak kasus kejahatan kini harus berbalik 180 derajat dan menjadi tersangka kejahatan pembunuhan yang ia lakukan kepada anak buahnya sendiri. Miris memang, seorang pejabat yang semestinya menghadirkan kenyamanan dan keamanan bagi sesama justru menjadi pelaku kejahatan.

Cerita berbeda dialami seorang anak di Jawa Timur tepatnya dari Banyuwangi. Farel Prayoga namanya. Mendadak membikin heboh setelah ia diundang Istana Negara Jakarta untuk menyanyikan lagu dangdut "Ojo Dibandingke" yang sebelumnya ia nyanyikan melalui Chanel YouTube. Lahir dari keluarga yang kekurangan, Farel memiliki pengalaman hidup yang berat. Anak berusia 12 tahun tersebut dulunya adalah seorang pengamen. Hal itu dilakukan karena kondisi orang tua yang serba kekurangan. Namun kini semua berubah, berkat suara merdunya Farel kini menjadi salah satu penyanyi dangdut paling hits dan mendapatkan apresiasi dari banyak pihak. Salah satu rumah produksi sudah memproduksi lagu khusus untuk Farel. Kini, salah satu label dangdut ternama Aneka Safari Record yang mengajak Farel kolaborasi sudah memiliki jutaan view dari tiap lagu yang ia bawakan. Selain itu Farel juga kerap diajak penyanyi ternama untuk duet menghibur masyarakat.

Farel Prayoga menyanyi di Istana Negara (By: google)

Kini kehidupan Farel juga sudah berubah 180 derajat. Dari bukan apa-apa sekarang ia menjadi sosok yang dikagumi dan ditunggu karyanya oleh pencinta musik dangdut. Kehidupan yang sebelumnya serba kekurangan kini ia sudah memiliki kehidupan yang lebih baik dan status sosial yang terpandang. 

Semuanya sudah berubah. Itulah yang terjadi pada Sambo dan Farel. Dalam sekejap kehidupan mereka berputar bak rollercoaster. Hanya saja keberuntungan milik Farel yang mana kehidupan ia berubah lebih baik. Farel mengajarkan arti kegigihan dan ketekunan dalam melakukan sesuatu yang ia sukai, menyanyi. Meskipun awalnya harus dicap sebagai pengamen jalanan dan hidup serba kekurangan.

Disisi lain, Ferdy Sambo yang sebelumnya bergelimang prestasi dan jabatan yang tinggi harus menerima kenyataan pahit mendekam di jeruji besi menunggu kepastian hukum akan perbuatan yang ia lakukan. Sambo tetaplah manusia biasa. Dimana dibalik menterengnya jabatan atau status sosial seseorang pasti menyimpan aib ataupun kesalahan. Darinya kita bisa belajar pentingnya sabar akan prestasi dan jabatan. Sabar akan membuat seseorang tetap rendah hati dan menyadari tugas utamanya dibalik jabatan yang disematkan. Sehingga bisa terhindar dari hal-hal yang mencoreng prestasi ataupun nama baik yang sudah dibangun sekian lama.

Akhir artikel ini, mereka tetaplah manusia biasa seperti kita. Kadang ada kebaikan dan keburukan dalam setiap langkah kehidupan. Mereka hanya sedang melalui fase kehidupan yang sebenarnya sudah digariskan. Yang bisa kita ambil saat ini adalah jika kita merasa diatas jangan seperti Sambo yang lepas kendali sehingga melakukan perbuatan yang menghinakan diri sendiri. Menggunakan kekuasaan untuk menutupi keburukan. Begitupula kalau kita sedang dibawah layaknya apa yang pernah dialami Farel, kita hanya perlu bersabar dan terus berusaha melakukan yang terbaik dari setiap langkah kehidupan.

Semoga kita bisa belajar dari apa yang menimpa Sambo dan Farel.

Selesai.



Comments

Popular posts from this blog

Hidup Tenang atau Senang?

Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...

"molimo"

Ada sebuah ungkapan unik yang menggambarkan problematika mertua dengan menantu. Ungkapan atau istilah tersebut saya dengar pertama kali disingkat dengan kata “molimo”. Pada awalnya saya mengenal istilah tersebut adalah   singkatan dari beberapa kata perbuatan tercela dalam masyarakat seperti maling, madat, madon, main dan minum. Tetapi ternyata ada singkatan lain dari ungkapan “molimo” tersebut, yakni madep mantep mangan melu moro tuo, moro tuo muni-muni mantu minggat, moro tuo mati mantu marisi . Dalam bahasa Indonesia ungkapan tersebut kurang lebih berarti keyakinan ikut makan dan tinggal dengan mertua, mertua marah-marah menantu pergi dari rumah, mertua meninggal kemudian menantu mendapatkan warisan” . Dalam menyingkat istilah tersebut ada beberapa perbedaan, selain “molimo” ada yang menyebut dengan istilah “mosongo” atau “molimolas” dan lain sebagainya. Istilah ini familiar di telinga saya sendiri, saya pun terkadang juga memakai istilah ini sekedar untuk guyonan say...

Impian Tampil di Piala Dunia digagalkan Ego PSSI

Berbagai cerita manis telah ditorehkan Sepakbola Nasional. Asa untuk menorehkan sejarah baru, untuk menatap panggung yang selama ini hanya jadi mimpi, Piala Dunia. Tapi di tengah perjalanan itu, terasa badai datang bukan dari lawan di lapangan, melainkan dari keputusan di meja federasi. PSSI memilih berpisah dengan coach Shin Tae-yong sosok yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi arsitek perubahan terbesar dalam sepakbola nasional. Bukan soal yang sederhana. Sebab STY bukan hanya pelatih, tapi juga pembentuk budaya baru di tubuh timnas. Dari pola makan, disiplin waktu, hingga mental bertanding, semuanya ia ubah pelan-pelan. Kita masih ingat bagaimana awalnya banyak pemain yang “kaget” dengan standar latihan ala Korea Selatan itu. Tapi dari situlah perubahan dimulai dan proses itu nyata. Jejak yang Tak Bisa Dihapus: Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia menapaki fase yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Diantaranya: Finalis Piala AFF 2020, dengan skuad muda penuh seman...