Skip to main content

Selamat Jalan, Julia Perez!

Innalillahi wainna ilaihi raji'un...

Pada hari Sabtu (10/6/2017) Julia Perez menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta . Wanita yang berprofesi sebagai aktris ini beberapa tahun terakhir berjuang melawan penyakit yang ia derita. Berbagai cara sudah ditempuh hingga berobat ke luar Negeri untuk mencari kesembuhan. Tapi semuanya termasuk kehidupan ini adalah milik Allah SWT. Akhirnya Allah mentakdirkan kehidupan Jupe memang cukup sampai disini.

Saya dan Jupe (sapaan akrab Julia Perez) memang sama sekali tidak ada hubungan. Saya mengetahui Jupe dan pastinya Jupe tidak mengenal saya. Hehe..
Tapi yang membuat saya ingin menulis adalah saya atau kita bisa mengambil hikmah dari apa yang dialami Jupe.

Sepenilaian saya, Jupe sebagai seorang Wanita memiliki banyak kelebihan yang diberikan Tuhan yang mengantarkan ia menjadi salah satu aktris terpopuler di Indonesia. Kelebihan Jupe yang mungkin tidak dimiliki wanita pada umumnya adalah kecantikannya, tubuh yang proporsional (kalau tidak boleh dikatakan sexy), dan tentu saja kemampuan ber akting di depan kamera. Sebuah kelebihan yang saya yakin disetujui oleh semua pembaca Blog saya ini, khususnya para laki-laki.
Kelebihan yang Jupe miliki tersebut adalah kunci utama dalam menapaki karir di dunia hiburan tanah air. Tak jarang Jupe menjadi Brand Ambassador maupun bintang iklan untuk menarik perhatian khalayak khususnya para laki-laki. Saat tampil diatas panggung sekalipun Jupe di setting sedemikian rupa sehingga tampilannya sangat mempertontonkan keindahan khas yang ia miliki dari sisi tampilan fisik seorang wanita.

Hal inilah yang menurut saya dari aspek Agama tidak sejalan. Dan inilah yang menyebabkan Jupe beberapa kali tampilannya diatas panggung dan di depan kamera Televisi mendapat kecaman dari beberapa kelompok.
Tapi memang seperti itulah realita kehidupan. Saya sendiri tidak pernah tahu asal muasal seorang Julia Perez terjun di dunia Aktris untuk memanfaatkan kelebihan yang ia miliki. Pun demikian dengan kita. Kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk memanfaatkan kelebihan yang kita punya dengan sebaik-baiknya. Karena cara kita memanfaatkan apa yang diberikan Tuhan di dunia ini suatu saat akan dimintai pertanggung jawaban.

Satu hal yang saya sadari adalah segala sesuatu adalah milik Sang Maha Pencipta. Dzat yang akan mengambil segala yang kita miliki semasa hidup di dunia.  Entah kenapa, saya memiliki feeling bahwa Jupe adalah salah satu Aktris yang sangat beruntung. Dia sangat disayangi Allah SWT. Betapa tidak, setelah Jupe lama di dunia hiburan yang notabene bertolak belakang dengan ajaran Agama. Allah SWT memberi "kado" spesial di akhir hayatnya dengan sebuah penyakit. Penyakit itulah yang saya yakini adalah moment terindah Jupe berkomunikasi dengan Allah SWT. Saya merasa ada hal baik yang Jupe lakukan selama ia hidup, yang membuat Tuhan menentukan langkah untuk membersihkannya dari segala dosa-dosa yang pernah ia lakukan.

Sakit memang tidak ada satu pun manusia yang mengharapkan. Tapi bagi umat Islam sakit adalah pembersih dosa jika kita bisa menerima dengan ikhlas.
Bagi kita yang saat ini dikaruniai Allah SWT kesehatan, sudah sepantasnya selalu mensyukurinya dengan berbuat baik dan bertindak sesuai tuntunan Agama. Sebuah tuntunan yang memang untuk mengatur perilaku manusia.

Bagi saya, Jupe merupakan orang yang beruntung. Dan keberuntungan hanya akan datang kepada orang yang berbuat baik kepada sesamanya.
Di bulan suci ini Jupe meninggalkan kita semua. Sebuah renungan bagi kita apakah kita bisa seberuntung Jupe di akhir hayat kita kelak.
Terimakasih Jupe telah memberi saya pesan bahwa saya harus selalu berbuat baik kepada sesama untuk memperoleh keberuntungan tersebut.
Dan terimakasih telah membuat saya berkaca-kaca mengingat betapa banyak dosa saya sebagai manusia.
Akhirnya melalui jemari saya ini, meskipun Jupe tidak mengenal saya, saya berdoa semoga sakit yang ia alami selama beberapa tahun yang lalu akan menghapus semua dosanya. Dan Jupe termasuk dalam golongan Khusnul Khatimah. Amin amin amin...

Selesai...


Comments

Popular posts from this blog

Hidup Tenang atau Senang?

Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...

"molimo"

Ada sebuah ungkapan unik yang menggambarkan problematika mertua dengan menantu. Ungkapan atau istilah tersebut saya dengar pertama kali disingkat dengan kata “molimo”. Pada awalnya saya mengenal istilah tersebut adalah   singkatan dari beberapa kata perbuatan tercela dalam masyarakat seperti maling, madat, madon, main dan minum. Tetapi ternyata ada singkatan lain dari ungkapan “molimo” tersebut, yakni madep mantep mangan melu moro tuo, moro tuo muni-muni mantu minggat, moro tuo mati mantu marisi . Dalam bahasa Indonesia ungkapan tersebut kurang lebih berarti keyakinan ikut makan dan tinggal dengan mertua, mertua marah-marah menantu pergi dari rumah, mertua meninggal kemudian menantu mendapatkan warisan” . Dalam menyingkat istilah tersebut ada beberapa perbedaan, selain “molimo” ada yang menyebut dengan istilah “mosongo” atau “molimolas” dan lain sebagainya. Istilah ini familiar di telinga saya sendiri, saya pun terkadang juga memakai istilah ini sekedar untuk guyonan say...

Impian Tampil di Piala Dunia digagalkan Ego PSSI

Berbagai cerita manis telah ditorehkan Sepakbola Nasional. Asa untuk menorehkan sejarah baru, untuk menatap panggung yang selama ini hanya jadi mimpi, Piala Dunia. Tapi di tengah perjalanan itu, terasa badai datang bukan dari lawan di lapangan, melainkan dari keputusan di meja federasi. PSSI memilih berpisah dengan coach Shin Tae-yong sosok yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi arsitek perubahan terbesar dalam sepakbola nasional. Bukan soal yang sederhana. Sebab STY bukan hanya pelatih, tapi juga pembentuk budaya baru di tubuh timnas. Dari pola makan, disiplin waktu, hingga mental bertanding, semuanya ia ubah pelan-pelan. Kita masih ingat bagaimana awalnya banyak pemain yang “kaget” dengan standar latihan ala Korea Selatan itu. Tapi dari situlah perubahan dimulai dan proses itu nyata. Jejak yang Tak Bisa Dihapus: Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia menapaki fase yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Diantaranya: Finalis Piala AFF 2020, dengan skuad muda penuh seman...