Skip to main content

MA AL-ISLAM Jamsaren ditinggalkan pemimpin berkualitas

Ya.. Judul tersebuat sangat pantas mengawali tulisan saya kali ini, menggambarkan ketokohan Bapak Mufti Addin, seseorang yang menjadi inspirasi saya.

pertama saya ingin membahas terlebih dalulu arti seorang Bapak Mufti Addin dalam persepsi saya sebelum membahas yang lebih penting, yakni bagaimana nasib MA AL-Islam Jamsaren setelah ditinggal beliau...

ditemani semangkok mie instan panas, adrenalin saya terpacu untuk mengabadikan berbagai kemampuan Pak Addin dalam kepemimpinannya sebagai guru maupun Kepala Madrasah.

MALISKA merupakan SMA yang mungil yang sedang berkembang pesat saat ini, SMA yang begitu memprihatinkan saat saya menjadi salah satu siswanya di tahun 2004. dalam segala hal, statement pertama Bp. Addin yang masih sangat jelas di ingatan saya, intinya bahwa beliau hanya diberikan waktu beberapa tahun (seingat saya 2th) untuk mengembangkan MALISKA, apabila MALISKA dalam kurun waktu tersebut tidak bisa lepas dari subsidi Yayasan, maka MALISKA akan di TUTUP! atau MERGER!
di usia kelas 1 SMA saya memang belum bisa menganalisa jauh nasib MALISKA tersebut. TAPI saya merasakan iklim yang luar biasa, dengan keadaan tersebut ditambah ekonomi yang lemah, minimnya jumlah siswa dan masalah lainnya, saya merasakan bahwa semua elemen MALISKA yang ada pada waktu itu (Kamad dan seluruh guru dan karyawa, murid) sangat kompak ingin menyelamatkan MALISKA, sosok Pak Addin mampu memberi suntikan semangat kepada semua jajarannya termasuk seluruh siswa untuk bekerja keras. entah apa itu saya tidak tahu! kalau sekarang saya sudah tahu, bahwa yang membuat iklim tersebut pembawaan, dan ketokohan Bp. Addin yang sangat berwibawa, sehingga tanpa marah-marah semua mampu mengikuti arahan beliau. Kami(siswa), Bp. sigit, Bp. Joko Wi, Bp. Winanto, Ibu Umi R, Ibu Umi K, dan semuanya bersatu memperbaiki MALISKA, hingga tahun pertama saya dipimpin Bapak Mufti Addin MALISKA mengalami peningkatan kuantitas dan kualitas siswanya. Alhamdulillah...

mungkin saya menyebut di angkatan saya itulah MALISKA mulai bergerak cepat, di tahun ke dua dan ketiga saya menjadi siswa, MALISKA mampu terselamatkan dan masyarakat percaya untuk seko;ah di MALISKA. saya tidak berlebihan, memang semua prestasi tersebut dibarengi dengan muncul masalah-masalah sebagai cobaan, tapi sosok beliau mampu menetralisir polemik antar elemen yang ada di MALISKA. sebagai salah satu contoh, teman seangkatan saya pernah memprotes beliau soal hormat bendera, karena teman saya berpendapat bahwa hal tersebut syirik atau bid'ah. pada saat itu saya dan mas Iqbal diajak teman saya tersebut untuk protes ke Pak Addin. pada awalnya saya berpikir kalau beliau akan marah diprotes seperti itu, tapi fakta dilapangan beliau malah menjawab dengan argumen yang sangat menghargai argumen kami, dan saya sangat menerima arumen tersebut, meski teman saya masih tetap bersikukuh. tapi setidaknya cara pak Addin menyelesaikan soal seperti itu bisa dengan cara yang sangat lembut.
kepemimpinan beliau saat itu secara tidak langsung membakar semangat saya untuk membawa MALISKA lebih baik, karena bidang yang saya tekuni olahraga maka saya bertekad MALISKA olahraganya bisa lebih maju, dan saya sama mas Alfian, Mas Sabani, Mas Shohib, dsb pada saat itu olah raga di MALISKA berkembang pesat. termasuk mampu berpartisipasi di turnamen HEXOS CUP.

dan masih banyak lagi prestasi MA pada saat itu sampai sekarang yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. karena rasa tanggung jawab memiliki MALISKA itulah saya sama mbak fiatin, dan mas iqbal mendirikan FORSMA, Forum ini bertujuan untuk menjadi salah satu partner pihak sekolah membangun jaringan Alumni MA. karena inilah yang bisa saya persembahkan untuk MA AL-ISLAM JAMSAREN.

sekarang memang pemimpin hebat tersebut sudah pindah tempat, saya melakukan hal apapun memang bukan untuk beliau tapi kecintaan saya dengan almamater saya. tapi ada sedikit perasaan khawatir saya MALISKA tanpa beliau sebagai pemegang keputusan. semua staff di MALISKA belum ada yang sekaliber beliau.
kenapa beliau harus pergi saat MALISKA sedang berkembang seperti ini, saya menghargai jika alasannya administratif bahwa beliau sudah dua periode kepemimpinan.
semoga yang saya takutkan tidak terjadi, bahwa penerus beliau adalah seorang guru yang punya kenangan relatif buruk dengan siswanya (seperti kata-kata "tak cor nDasmu", sikap salah tempat ditengah proses mengajar malah ngapalin al-qur'an, suka nyindiri siswa, hanya menganggap alumni kalau berprestasi, menjudge siswa seenaknya, tidak mau menerima kritikan). saya juga paham tidak ada seseorang yan sempurna, Pak Addin juga tidak sempurna kok, beliau sikapnya menandakan bahwa siswa adalah teman dan sahabat sekaligus partner belajar. ITU YANG DIBUTUHKAN SEORANG PIMPINAN.


saya membawa misi lain di sini. siapa yang mengganti beliau akan mempengaruhi kualitas hubungan FORSMA dengan pihak sekolah, karena saya juga pimpinan FORSMA. Jaman Pak Addin saja saya sering salah paham dengan staff beliau, yang bisa memahami saya hanya beliau. apalagi kalau sekarang dipimpin orang lain.
sampai sekarang saya memang belum mendengar siapa pengganti beliau secara resmi, tapi saya diberitahu mas Doni penggantinya adalah Bp. Syafi'i. pada kesempatan saya kali ini saya belum bisa berkomentar soal itu.

harapan saya pribadi juga mewakili FORSMA, bahwa PEMIMPIN MALISKA YANG BARU MAMPU MENJADI SAHABAT, KAWAN, ORANG TUA, KAKAK, SERTA GURU BAGI SEMUA ELEMEN MALISKA dan melanjutkan perjuangan beliau.

SIAPAPUN PENGGANTI TERSEBUT, SAYA JUGA FORSMA SIAP MEMBANTU APAPUN YANG BISA KAMI LAKUKAN UNTUK KEMAJUAN MA AL-ISLAM.

insya Allah FORSMA akan melahirkan pemimpin layaknya Bapak Mufti Addin..... amin.

Comments

mantap jaya ... hehe *_0
hehe.. semoga skul kita tercinta juga makin mantap jaya...
Maliska jaya Kakak-kakakkuu.... Alhamdulillah sudah ber-cctv berproyektor lcs dan dilengkapi sound tiap kelasnya :) Sudah ketambahan GreenMaliska dan ekskul lain. Dan jurnalistik sudah maju :)) Semua organisasi mempunyai prestasi sendiri2... :D @bielasalsa97
Alhamdulillah.. semakin maju..

Popular posts from this blog

Hidup Tenang atau Senang?

Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...

"molimo"

Ada sebuah ungkapan unik yang menggambarkan problematika mertua dengan menantu. Ungkapan atau istilah tersebut saya dengar pertama kali disingkat dengan kata “molimo”. Pada awalnya saya mengenal istilah tersebut adalah   singkatan dari beberapa kata perbuatan tercela dalam masyarakat seperti maling, madat, madon, main dan minum. Tetapi ternyata ada singkatan lain dari ungkapan “molimo” tersebut, yakni madep mantep mangan melu moro tuo, moro tuo muni-muni mantu minggat, moro tuo mati mantu marisi . Dalam bahasa Indonesia ungkapan tersebut kurang lebih berarti keyakinan ikut makan dan tinggal dengan mertua, mertua marah-marah menantu pergi dari rumah, mertua meninggal kemudian menantu mendapatkan warisan” . Dalam menyingkat istilah tersebut ada beberapa perbedaan, selain “molimo” ada yang menyebut dengan istilah “mosongo” atau “molimolas” dan lain sebagainya. Istilah ini familiar di telinga saya sendiri, saya pun terkadang juga memakai istilah ini sekedar untuk guyonan say...

Impian Tampil di Piala Dunia digagalkan Ego PSSI

Berbagai cerita manis telah ditorehkan Sepakbola Nasional. Asa untuk menorehkan sejarah baru, untuk menatap panggung yang selama ini hanya jadi mimpi, Piala Dunia. Tapi di tengah perjalanan itu, terasa badai datang bukan dari lawan di lapangan, melainkan dari keputusan di meja federasi. PSSI memilih berpisah dengan coach Shin Tae-yong sosok yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi arsitek perubahan terbesar dalam sepakbola nasional. Bukan soal yang sederhana. Sebab STY bukan hanya pelatih, tapi juga pembentuk budaya baru di tubuh timnas. Dari pola makan, disiplin waktu, hingga mental bertanding, semuanya ia ubah pelan-pelan. Kita masih ingat bagaimana awalnya banyak pemain yang “kaget” dengan standar latihan ala Korea Selatan itu. Tapi dari situlah perubahan dimulai dan proses itu nyata. Jejak yang Tak Bisa Dihapus: Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia menapaki fase yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Diantaranya: Finalis Piala AFF 2020, dengan skuad muda penuh seman...