Skip to main content

SOLO "THE SPIRIT OF PSSI"

Judul yang sedikit menggelitik, hehe... soalnya slogan kota Solo yang benar itu THE SPIRIT OF JAVA. maaf Pak Joko Wi slogannya sedikit saya plesetka, gag papa ya yang penting tetap menggambarkan Solo adalah tempatnya semangat terbarukan muncul.
PSSI Induk organisasi tertinggi olahraga paling populer di INDONESIA juga di dunia ini tentunya segala kinerjanya akan mendapatkan extra sorotan dari masyarakat, disebabkan banyaknya yang ingin menikmati sepak bola. apalagi di INDONESIA pecinta sepakbola sudah sangat haus akan prestasi. tapi tulisan saya ini belum membahas soal prestasi, melainkan kisruhnya PSSI sekarang-sekarang ini.
di tengah masyarakat INDONESIA yang sedang meningkat antusias menyaksikan sekaligus kebanggaan akan timnas saat moment PIALA AFF Desember lalu, muncul sebuah polemik dalam tubuh organisasi ini. Entah apapun itu yang pasti penguasa PSSI saat itu tidak mampu bersikap layaknya Esensi dari sebuah pertandingan sepakbola, yaitu "MY GAMES IS FAIRPLAY". banyaknya tuntutan untuk mundur dari KETUM PSSI sama sekali tidak direspon dengan baik oleh pak Nurdin Halid, justru menampakkan seakan-akan PSSI miliknya sendiri yang tidak bisa diganggu gugat siapapun. arogan dan haus kekuasaan adalah gambaran saya saat itu mendengar nama Nurdin Halid, seorang narapidana korupsi yang mata duitan dan mungkin masih banyak lagi sifat busuknya yang kita tidak tahu. yang jelas intinya sangat tidak layak menjadi pemimpin! akibat kepemimpinan orang yang seperti itu sepakbola kita makin tidak terarah, karena apabila kita gagal lagi memilih ketua umum, maka PSSI atau lebih tepatnya lagi Sepakbola kita akan di Skors FIFA, hal yang tak pernah saya bayangkan!
sebenarnya sudah tepat ketika pemerintah dengan tegas menbekukan kabinet Nurdin Halid di PSSI, akan tetapi banyaknya kepentingan pribadi atau kelompok di dalam tubuh organisasi ini yang memancing beberapa pihak yang ingin menguasai PSSI berbondong-bondong mendekat, saya tidak bisa memberi penilaian langsung apakah mereka lebih baik dari Nurdin Halid, tap setidaknya dengan mengetahui latar belakang mereka, mereka belum layak lah... kenapa? Nirwan Bakri jelas anteknya Nurdin Halid, dan pencalonannya dulu mungkin sebuah strategi busuk saja dar Nurdin. Jorge Toisutta, saya tidak paham dimana jiwa sepakbolanya tumbuh padahal dia seorang petinggi AD, apa dengan mengaku cinta sepakbola cukup menjadi pemimpin bagi seluruh elemen sepakbola yang ada di INDONESIA ini?, yang pasti tidak punya background yang menggambarkan sepakbola. terakhir Arifin Panigoro, buat apa bung manfaatnya anda membikin LIGA sendiri?? semua orang sudah tahu anda kaya raya! tapi jangan jadikan alasan membangun liga profesional untuk tujuan pribadi! kita sudah carutmarut dengan masalah yang ada, LPI sok-sokan jadi malaikat, itu akan tambah menggambarkan kesemrawutan kita bung! karena FIFA tak akan mentolelir apaun.

dengan melihat background calon ketua umum tersebut yang dulu pernah menjadi kandidat kuat, jujur saya sangat pesimis lebih baik dar Nurdin. tapi alhamdulillah kongres yang mengakomodir mereka berantakan! akhirnya FIFA membentuk KN untuk melanjutkan "nyawa" PSSI. dan Saya tambah bersyukur nama-nama yang saya sebutkan di atas dilarang FIFA untuk masuk dalam kongres bentukan KN ini.

sekarang mari kita semua sebagai pecinta sepakbola menatap masa depan pesepakbolaan kita dengan mendukung penuh kongres sekaligus "nyawa terakhir" PSSI di SOLO pada tanggal 9 Juli 2011. saya berharap dan saya yakin juga harapan semua masyarakat sepakbola INDONESIA bahwa kongres akan berjalan lancar dan menghasilkan pengurus PSSI yang mempunyai kepentingan memajukan sepakbola INDONESIA.

Solo akan menjadi tempat sejarah Sepakbola INDONESIA. jangan sampai Solo menjadi saksi hancurnya sepakbola INDONESIA semoga spirit Kota Solo yang sedang berkembang pesat yang juga merupakan simbol PON I mampu menjadi motivasi bagi peserta kongres untuk menyelamatkan persepakbolaan kita.

BRAVO SEPAKBOLA INDONESIA!

Comments

Popular posts from this blog

Hidup Tenang atau Senang?

Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...

"molimo"

Ada sebuah ungkapan unik yang menggambarkan problematika mertua dengan menantu. Ungkapan atau istilah tersebut saya dengar pertama kali disingkat dengan kata “molimo”. Pada awalnya saya mengenal istilah tersebut adalah   singkatan dari beberapa kata perbuatan tercela dalam masyarakat seperti maling, madat, madon, main dan minum. Tetapi ternyata ada singkatan lain dari ungkapan “molimo” tersebut, yakni madep mantep mangan melu moro tuo, moro tuo muni-muni mantu minggat, moro tuo mati mantu marisi . Dalam bahasa Indonesia ungkapan tersebut kurang lebih berarti keyakinan ikut makan dan tinggal dengan mertua, mertua marah-marah menantu pergi dari rumah, mertua meninggal kemudian menantu mendapatkan warisan” . Dalam menyingkat istilah tersebut ada beberapa perbedaan, selain “molimo” ada yang menyebut dengan istilah “mosongo” atau “molimolas” dan lain sebagainya. Istilah ini familiar di telinga saya sendiri, saya pun terkadang juga memakai istilah ini sekedar untuk guyonan say...

Impian Tampil di Piala Dunia digagalkan Ego PSSI

Berbagai cerita manis telah ditorehkan Sepakbola Nasional. Asa untuk menorehkan sejarah baru, untuk menatap panggung yang selama ini hanya jadi mimpi, Piala Dunia. Tapi di tengah perjalanan itu, terasa badai datang bukan dari lawan di lapangan, melainkan dari keputusan di meja federasi. PSSI memilih berpisah dengan coach Shin Tae-yong sosok yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi arsitek perubahan terbesar dalam sepakbola nasional. Bukan soal yang sederhana. Sebab STY bukan hanya pelatih, tapi juga pembentuk budaya baru di tubuh timnas. Dari pola makan, disiplin waktu, hingga mental bertanding, semuanya ia ubah pelan-pelan. Kita masih ingat bagaimana awalnya banyak pemain yang “kaget” dengan standar latihan ala Korea Selatan itu. Tapi dari situlah perubahan dimulai dan proses itu nyata. Jejak yang Tak Bisa Dihapus: Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia menapaki fase yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Diantaranya: Finalis Piala AFF 2020, dengan skuad muda penuh seman...