Skip to main content

1221 Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta pada 3 Desember 2011


Alhamdulillah... akhirnya datang juga hari itu. Tanggal 3 Desember 2011 merupakan salah satu hari bersejarah bagi saya. Saya mencapai puncak dalam perjalanan studi jenjang S-1 saya selama 4 tahun di Universitas Negeri Yogyakarta, pada hari itu bertempat di GOR UNY 1221 mahasiswa dan mahasiswi UNY termasuk saya melaksanakan wisuda sebagai prosesi akhir dari perjalanan panjang sebagai mahasiswa.

Sekarang memang sudah bukan tanggal 3 Desember 2011, hari itu sudah berlalu layaknya hari-hari lainnya yang pernah saya lalui. Tidak ada gunanya lagi menyesali atau terlalu membanggakan apa yang pernah terjadi. Tulisan ini seperti tulisan lainnya meski membahas masa lalu tujuannya hanya sebagai penghargaan bagi masa lalu yang bisa saya gunakan sebagai pelajaran menghadapi serta merencanakan masa depan. 

Hari begitu membanggakan serta mengharukan bagi saya pribadi, akhirnya setelah sekian lama saya bisa menjadi alumnus Universitas impian saya. Saya begitu gembira acara wisuda saya dihadiri orang-orang terdekat, antara lain keluarga saya Bapak, Ibuk, Mas Najar, dan Mbak Diyah, Fahmi, serta sahabat saya Mas Iqbal, Mbak Fiatin, Mas Ikhsan, Mas Slamet, Mbak Tiqo, Mbak Eni dan Mas Yunawan. Saat prosesi wisuda berlangsung ada satu hal yang membuat saya kurang konsentrasi pada waktu itu. Saya bingung, apa saya harus sedih padahal waktu itu saatnya saya bisa membanggakan orang tua dan semua orang, sepertinya saya tidak pantas terlihat murung. Apa saya harus gembira, padahal ada satu hal dalam hidup saya yang paling saya tunggu-tunggu saat saya wisuda tetapi belum hadir juga. Saya memang sangat kecewa dengan harapan saya sampai saat ini, memang bukan segalanya dalam hidup saya, tapi itu yang membuat segalanya bagi saya lebih berarti. Mungkin hari itu sebagai bukti saya bukan orang spesial... itu yang harus saya sadari bahwa saya adalah orang lain!

BUKAN KARENA ITU SAYA MENULIS!

Itu hanya salah satu sisi perasaan saya pada waktu itu yang begitu dominan, tetapi saya tidak mau kufur terhadap nikmat Allah pada hari itu. Alahmdulillah apapun yang terjadi pada saat itu saya masih merasa beruntung. Inilah keseimbangan kehidupan, ada yang saya dapatkan dan ada juga yang mengecewakan. Kalaupun yang saya tunggu-tungu pada waktu itu hadir, itu namanya SEMPURNA! Hal yang tidak mungkin terjadi.

Bersama 1220 Mahasiswa saat itu yang menjalani prosesi wisuda kami punya tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan memikirkan perasaan kami masing-masing, entah senang ataupun sedih.
Prosesi wisuda bukanlah akhir dari sebuah perjalanan bagi mahasiswa tetapi merupakan pintu 
utama untuk masuk dalam lingkungan profesional sesuai bidang yang ditekuni yang diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Lulusan UNY sebagian besar merupakan lulusan dari jurusan kependidikan, sebagaimana amanah yang disampaikan rektor UNY Bp. Prof. Dr. H. Rochmat Wahab,M.Pd, MA. pada saat prosesi wisuda bahwa alumni UNY harus memberikan kepedulian yang mendalam terhadap pendidikan bangsa ini yang berorientasi pembentukan karakter bangsa INDONESIA kedepannya. Pendidikan karakter seperti yang seperti apa kita harus mampu memberikan kontribusi bagi pendidikan karakter bangsa yang berbudaya positif. Kenyataan yang terjadi saat ini begitu memprihatinkan, masih ingat dengan kasus Ibu Siami di Surabaya?, ketika Ibu Suami berusaha jujur membuka kasus contek massal yang tejadi di tempat sekolah anaknya justru Ibu Siami mendapatkan cercaan serta makian dari wali murid lainnya. Masih ingat kasus pemukulan yang terjadi oleh guru terhadap murid dengan alasan ketegasan dan pendidikan?. Sampai sekarang masih banyak terjadi siswa SMA melakukan kekerasan entah tawuran ataupun sampai kekerasan seksual. 

APA SEPERTI ITU PENDIDIKAN BERKARAKTER BANGSA KITA?

Tentu saja kita sebagai alumni UNY yang memiliki semboyan Insan Cendekia, Mandiri, dan Bernurani semua itu sangat bertentangan dengan hal yang seharusnya terjadi. Pendidikan merupakan hal terpenting dalam hidup ini, pendidikan bisa kita dapatkan dari mana saja, dari melihat, mendengar dan membaca kita sudah bisa mendapatkan pendidikan, tapi ketika berbicara pendidikan formal yang dimulai dari Taman Kanak-kanak diperlukan tenaga pendidik yang mampu menjadi contoh bagi anak didik dan mempunyai keterampilan yang profesional. Dan saya kira yang saat ini terjadi di bangsa kita masih jauh dari yang diharapkan, tetapi sampai kapan kita terus berharap tanpa bertindak? Kekerasan dan korupsi di negeri ini sudah menjadi budaya dan itu sangat memprihatinkan.

UNTUK ITULAH KALI INI SAYA MENULIS,

Melalui tulisan ini berdasarkan latar belakang diatas saya mengajak setidaknya 1220 lulusan UNY pada 1 periode 3 Desember 2011 untuk segera melupakan prosesi wisuda karena ada hal lebih penting di depan kita yang menanti. Mari kita tatap dunia kerja dengan profesional berdasarkan kecendekiaan dan hati nurani yang kita miliki yang sudah kita dapatkan di UNY. Baik lulusan jurusan Pendidikan atau Non Kependidikan mari kita benahi semua lini yang ada di Negeri ini melalui kompetensisi masing-masing yang kita miliki.

Wisuda dalam periode ini UNY berhasil meluluskan tenaga ahli yang lulus dari fakultas Matematika dan Ilmu Pengetajuan Alam, Fakultas Tehnik, Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Sosial, Fakultas Ilmu Keolahragaan, dan Fakultas Ekonomi. Saya kira kita tidak perlu bngung setelah wisuda mau kemana?

Masih banyak bidang di negeri ini yang perlu pembenahan.
Saya kira moment ini paling tepat menunjukkan profesionalisme kita serta kualitas diri kita sebagai lulusan Universitas Negeri Yogyakarta.

Melalui tulisan ini saya juga inging menyampaikan terima kasih yang mendalam terhadap sahabat-sahabat saya yang hadir menyambut saya Mas Iqbal, Mbak Fiatin, Mas Ikhsan, Mas Slamet, Mbak Tiqo, Mbak Eni dan Mas Yunawan. Banyak tanggung jawab yang harus saya emban melalui selembar kertas bernama IJAZAH.

Semoga saya bersama 1220 lulusan UNY pada periode 3 Desember 2011 bisa membawa dampak positif bagi masyarakat INDONESIA. Amin...

Comments

Popular posts from this blog

Hidup Tenang atau Senang?

Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...

"molimo"

Ada sebuah ungkapan unik yang menggambarkan problematika mertua dengan menantu. Ungkapan atau istilah tersebut saya dengar pertama kali disingkat dengan kata “molimo”. Pada awalnya saya mengenal istilah tersebut adalah   singkatan dari beberapa kata perbuatan tercela dalam masyarakat seperti maling, madat, madon, main dan minum. Tetapi ternyata ada singkatan lain dari ungkapan “molimo” tersebut, yakni madep mantep mangan melu moro tuo, moro tuo muni-muni mantu minggat, moro tuo mati mantu marisi . Dalam bahasa Indonesia ungkapan tersebut kurang lebih berarti keyakinan ikut makan dan tinggal dengan mertua, mertua marah-marah menantu pergi dari rumah, mertua meninggal kemudian menantu mendapatkan warisan” . Dalam menyingkat istilah tersebut ada beberapa perbedaan, selain “molimo” ada yang menyebut dengan istilah “mosongo” atau “molimolas” dan lain sebagainya. Istilah ini familiar di telinga saya sendiri, saya pun terkadang juga memakai istilah ini sekedar untuk guyonan say...

Impian Tampil di Piala Dunia digagalkan Ego PSSI

Berbagai cerita manis telah ditorehkan Sepakbola Nasional. Asa untuk menorehkan sejarah baru, untuk menatap panggung yang selama ini hanya jadi mimpi, Piala Dunia. Tapi di tengah perjalanan itu, terasa badai datang bukan dari lawan di lapangan, melainkan dari keputusan di meja federasi. PSSI memilih berpisah dengan coach Shin Tae-yong sosok yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi arsitek perubahan terbesar dalam sepakbola nasional. Bukan soal yang sederhana. Sebab STY bukan hanya pelatih, tapi juga pembentuk budaya baru di tubuh timnas. Dari pola makan, disiplin waktu, hingga mental bertanding, semuanya ia ubah pelan-pelan. Kita masih ingat bagaimana awalnya banyak pemain yang “kaget” dengan standar latihan ala Korea Selatan itu. Tapi dari situlah perubahan dimulai dan proses itu nyata. Jejak yang Tak Bisa Dihapus: Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia menapaki fase yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Diantaranya: Finalis Piala AFF 2020, dengan skuad muda penuh seman...