Skip to main content

Nampaknya semua harus dimulai dengan cobaan...

Alhamdulillah pulang kerja dari kantor baru, sekarang saya instruktur di Hotel Jayakarta. kerjanya lebih santai dan banyak teman. tapi hari pertama ini sangat berkesan buat saya yang membuat saya pengen menulis. saya bekerja di bawah perusahaan yang mengelola SPA & FITNESS, kebetulan di hotel Jayakarta tersebut kedua-duanya dikelola perusahaan saya tersebut, jadi jadi satu sehinnga saya bisa bercanda dan bergaul dengan para terapisnya, nha.. pas ketika saya duduk-duduk ada tamu hotel bapak-bapak yang ingin memakai jasa terapis untuk masase (pijat). bapak tersebut meminta terapis yang laki-laki dengan alasan takut dimarahin istrinya kalau dimasase seorang terapis perempuan, berhubung di SPA semua terapis perempuan akhirnya bapak itu tidak jadi, saat tersebut saya cerita dengan mbaknya recepsionist SPA bahwa saya juga mempunyai kemampuan masase karena memang saya ada mata kuliah tersebut. singkat cerita setengah jam setelah itu saya pas makan malam tiba-tiba recepsionist memintaq untuk memasase bapaknya tadi karena bapaknya sudah bersedia. dengan pertimbangan profesional apalagi bapak-bapak gag masalah juga, mkanya saya terima tawaran itu yang bukan Job Deskripsi saya sebagai instruktur, itung-itung nambah uang pulsa juga, hehe.. :-)
ya sudah saya masuk ruang SPA, seperti biasa diawali dengan Bismillah kemudian kerja.

BAYANGKAN!! KALIAN BISA NEBAK GAG APA YANG TERJAD DI RUANG SPA???
wakakakakakakakaakakakaakkakkkkk... sumpah aku tidak bisa menahan tawa terbahak-bahak mengingat kejadian tadi.. setelah beberapa menit saya memulai masase, TERNYATA???? apa yang terjadi???  apa?? TERNYATA, Bapaknya tadi pecinta sesama jenis alias HOMO!! wakakakakakaakakk... bisa kalian bayangkan apa yang terjadi di dalam, kayaknya tidak perlu saya ceritakan, hehe... yang jelas IMAN saya masih lebih kuat dan tidak bisa diganggu gugat!

masih ngakak saya.. wakakakakkk...

Tapi poin penting dari kejadian tadi saya teringat dengan perjalanan panjang saya hingga sekarang berusia hampir 23tahun, usia yang saya sudah tidak mau lagi dianggap sebagai anak-anak...

waktu saya masih SD saya ingin masuk di SSB, tapi cobaan saya terhalang orangtua yang melarang dengan alasan takut sholat sama sekolah saya terganggu, pada saat itu saya kecewa, tapi saya sekarang sadar untung bapak saya memilihkan jalan seperti itu. kemudian masa SMP saya gag paham kayaknya udah dari sananya saya bisa bergaul dengan semua orang entah cowok tow cewek dari golongan apapun, tapi aku heran dapat cobaan dimusuhi sisa-siswa salah satu SMP swasta di Solo dengan alasan aku merebut pacar dari siswa yang dipandang ketua genk-nya di SMP. para siswa tersebut tidak terima dan saya masih ingat saya hampir dikeroyok dan dilerai tukang becak. selanjutnya masa SMA banyak ujian masalah wanita lah, masalah sepakbola lah, dimaki-maki guru, diremehin teman, dan sebagainya, sampai hampir lulus pun masih dibentak-bentak guru, di cap murid paling nakal, bandel, dll. masa SMA itulah ujian paling lengkap yang saya rasakan. tapi saya juga heran kenapa saya pada saat itu tidak ada rasa keinginan untuk membalas langsung. berjalannya waktu akhirnya saya lolos dari ujian SMA yang tertulis(UAN) dan tidak tertulis. setelah lulus UAN pun saya masih dimaki-maki guru katanya saya lulus BEJAN!! ya sudah pas saya lulus SNMPTN saya hampiri guru yang mengatakan saya lulus bejan tadi, dan saya katakan," Pak, matur nuwun do'anya?, saya bejan lagi masuk UNY".
selanjutnya masa kuliah, saya sejak SD-SMA selalu dilingkungan ISLAM sekarang berda di lingkungan ya islam tapi islam-islaman, hehe...
ujian pertama: kalau jaman SD-SMA masalah saru-sary mungkin cuma sekedar gojekan sama teman-teman, tapi di Jogja, terpampang jelas di depan.tapi saya tetap yakin IMAN saya lebih kuat dan saya tetap jadi diri sendiri, tapi ujin datang lagi gelar "homo" sempat saya rasakan, teroris, dsb. mungkin mksud mereka bercanda juga. TAPI INILAH DIRI SAYA SENDIRI!! semua seperti heran saya belum pernah ciuman sama perempuan.... tak habis pikir saya, ternyata hal seperti itu sudah sangat lumrah di kehidupan kita. dikost, dimanapun sampai skripsi ujian datang dari Dosen Pembimbing saya, dan sekarang sudah teratasi.
selanjutnya masuk dunia kerja... lagi-lagi ujian Allah buat umatnya muncul dalam berbagai bentuk termasuk yang saya alami hari ini..

itu tadi cerita sedikit juga sebagian ujian dari ujian lainnya yang belum bisa saya tulis. sebenarnya apa inti dari semua ini??
kita atau lebih tepatnya saya hidup sampai sekarang ternyata TIDAK ADA SATUPUN KEINGINAN TANPA PENGORBANAN, DAN PENGORBANAN ITU PADA SAAT UJIAN, DAN KEYAKINAN ITU MODAL UNTUK MENYELESAIKAN UJIAN! DAN HASIL UJIAN ITU TERBAIK BUAT KITA!!

atas dasar itu tentunya selagi saya masih berumur akan datang lagi, dan lagi yang namanya masalah ATAU COBAAN itu, entah level tinggi atau rendah dan dalam bentuk apapun dan dari siapapun.

para pembaca juga pasti memiliki kisah sendiri dengan ujian DAN COBAAN yang telah dijalani atau sedang menjalani ujian DAN COBAAN pada saat membaca tulisan saya ini...

pesan dan kesimpulan dari tulisan ini buat saya pribadi dan para pembaca JANGAN PERNAH MENYERAH UNTUK JADI INSAN YANG BERKUALITAS, KARENA SEMAKIN BERKUALITAS HIDUP KITA SEMUANYA AKAN DIMULAI DENGAN UJIAN.

DARI MANA AKAN LAHIR SEORANG PELAUT BERKUALITAS KALAU DI LAUT TIDAK ADA OMBAK?

Comments

Popular posts from this blog

Hidup Tenang atau Senang?

Ditengah hiruk pikuk kehidupan modern ini, saya mengajak kita berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendalam: Apakah kita ingin hidup tenang atau hidup senang? Sekilas keduanya terdengar serupa. Namun, sejatinya keduanya bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda. Kesenangan seringkali bersumber dari hal-hal yang bersifat sementara. Ia datang dari pencapaian, kekayaan, pujian, atau validasi dari orang lain. Saat semua itu hadir, hati terasa melambung. Tapi begitu hilang, kegelisahan pun datang. Hidup senang bisa terasa seperti mengejar bayangan selalu tampak dekat, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Sementara itu, ketenangan lahir dari keseimbangan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ia tidak bergantung pada pujian orang lain atau banyaknya materi yang dimiliki. Hidup tenang adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri menyadari batas, mensyukuri nikmat, dan tidak iri pada apa yang ada di tangan orang lain. Sayangnya, kehidupan modern dengan...

"molimo"

Ada sebuah ungkapan unik yang menggambarkan problematika mertua dengan menantu. Ungkapan atau istilah tersebut saya dengar pertama kali disingkat dengan kata “molimo”. Pada awalnya saya mengenal istilah tersebut adalah   singkatan dari beberapa kata perbuatan tercela dalam masyarakat seperti maling, madat, madon, main dan minum. Tetapi ternyata ada singkatan lain dari ungkapan “molimo” tersebut, yakni madep mantep mangan melu moro tuo, moro tuo muni-muni mantu minggat, moro tuo mati mantu marisi . Dalam bahasa Indonesia ungkapan tersebut kurang lebih berarti keyakinan ikut makan dan tinggal dengan mertua, mertua marah-marah menantu pergi dari rumah, mertua meninggal kemudian menantu mendapatkan warisan” . Dalam menyingkat istilah tersebut ada beberapa perbedaan, selain “molimo” ada yang menyebut dengan istilah “mosongo” atau “molimolas” dan lain sebagainya. Istilah ini familiar di telinga saya sendiri, saya pun terkadang juga memakai istilah ini sekedar untuk guyonan say...

Impian Tampil di Piala Dunia digagalkan Ego PSSI

Berbagai cerita manis telah ditorehkan Sepakbola Nasional. Asa untuk menorehkan sejarah baru, untuk menatap panggung yang selama ini hanya jadi mimpi, Piala Dunia. Tapi di tengah perjalanan itu, terasa badai datang bukan dari lawan di lapangan, melainkan dari keputusan di meja federasi. PSSI memilih berpisah dengan coach Shin Tae-yong sosok yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi arsitek perubahan terbesar dalam sepakbola nasional. Bukan soal yang sederhana. Sebab STY bukan hanya pelatih, tapi juga pembentuk budaya baru di tubuh timnas. Dari pola makan, disiplin waktu, hingga mental bertanding, semuanya ia ubah pelan-pelan. Kita masih ingat bagaimana awalnya banyak pemain yang “kaget” dengan standar latihan ala Korea Selatan itu. Tapi dari situlah perubahan dimulai dan proses itu nyata. Jejak yang Tak Bisa Dihapus: Di bawah asuhan STY, timnas Indonesia menapaki fase yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Diantaranya: Finalis Piala AFF 2020, dengan skuad muda penuh seman...